opini


SOMASI NTT pro KBBI

(Solidaritas Masyarakat Sipil Nusa Tenggara Timur Pro Kebebasan Beribadah dan Beragama Di Indonesia)

Sekretariat Jaringan: Posko BP Pemuda GMIT, Jl. KB. Lestari, No. 11, Kotabaru, Kupang

Nusa Tenggara Timur, Telp (0380) 833210, HP. 0811383960. E_mail: somasi_NTT@yahoo.co.id


Kepada Yth.

Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono

Di Tempat

PERNYATAAN SIKAP

“Negara gagal melindungi rakyatnya sendiri”


Kejadian Kekerasan dan pelarangan beribadah terhadap jemaat HKBP PTI Ciketing Bekasi (12/09/10) dan sebelumnya Penyerbuan Kompleks Jemaah Ahmadyah di Kuningan Jawa Barat serta berbagai peristiwa lainnya yang terjadi selama ini, telah membuktikan secara telanjang dan kasat mata bahwa: Negara dan pemerintah, sesungguhnya telah gagal dalam melindungi rakyat dan menjamin kebebasan rakyatnya untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya (Amanat PANCASILA, Alinea keempat Mukadimah dan pasal 29 UUD 1945).

Karena itu, kami atas nama SOMASI NTT pro KBBI sebagai warga Negara Indonesia,  dengan ini menyatakan sikap dan keteguhan prinsip kami sebagai berikut:

  1. Menyesalkan pernyataan Presiden RI yang meminta semua pihak untuk menjaga Kerukunan (14/09/10). Harusnya Presiden bertindak tegas, sekarang dan segera untuk melindungi rakyatnya dari kekerasan. Bukan justeru terus menerus menebar pesona dan pencitraan dengan menghimbau rakyat untuk menjaga kerukunan.
  2. Mendesak Presiden mengambil tindakan nyata untuk membuktikan janji kampanye dan pidato-pidatonya selama ini  bahwa pemerintah telah memberi jaminan kebebasan dan perlindungan dari negara bagi warga negara menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, sebagaimana terakhir disampaikan dalam Pidato Kenegaraan di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat pada 16 Agustus 2010.
  3. Menuntut Presiden memerintahkan Menteri terkait untuk segera mencabut,  SKB DWI MENTERI yang jadi sumber dan sarana kekerasan atas komunitas Kristiani, Ahmadiah dan Kelompok lainnya selama ini. Termasuk dalam hal ini menegur keras Walikota Bekasi karena telah gagal melindungi warganya sendiri.
  4. Penyesalan yang mendalam kepada Kapolri, Kapolda Metro Jaya  dan aparaturnya yang buru-buru mengatakan kejadian ini adalah Kriminal murni tanpa investigasi serius dan mendalam.  Kami mendesak KAPOLRI meletakan jabatan jika tidak mampu mengusut tuntas masalah dan membubarkan organisasi yang ada dibalik kekerasan ini.
  5. Menuntut pemerintah menindaklanjuti laporan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri pada 30 Agustus 2010 tentang organisasi-organisasi kemasyarakatan yang berbuat anarkis. Menurut laporan Kapolri, beberapa organisasi itu terlibat 49 tindakan kekerasan pada 2010 dan total 107 tindakan kekerasan pada beberapa tahun terakhir, termasuk penyerangan terhadap kebebasan beribadah sesuai agama dan keyakinan masing-masing, baik terhadap penganut agama dan keyakinan tersebut maupun tempat-tempat ibadah mereka.

Demikian Pernyataan sikap dan peneguhan sikap kami ini ditulis, ditandatangani, dan disampaikan oleh Warga Negara Indonesia kepada Presiden Republik Indonesia sebagai pernyataan yang menuntut respon dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Terimakasih.

SOMASI NTT pro KBBI

BP Pemuda GMIT Sinode : Winston Rondo : Ketua
DPD GAMKI NTT : Ir. Emilia Nomleni : Ketua
KONTRAS Nusa Tenggara : Marthen Salu, SH : Koord. Badan Pekerja
Forum Pemuda Kristen Indonesia (FOPEMKRI) : Jeremias Haning : Ketua Umum
Forum Komunikasi Pemuda Gereja Kristen Indonesia (FKPGK) NTT : David Natun, S,Pd : Ketua
BPC GMKI KUPANG : Jhon Liem : Ketua
BEM UNKRIS Artha Wacana (UKAW) : Isto Banunaek : Ketua
BEM Universitas Nusa Cendana (UNDANA) : Frits Blegur : Ketua
WE CAN region NTT : Merry Djami, S,Th : Koordinator
Yayasan CEMARA Kupang : Eyda Djubire, S,Sos : Koordinator Program
Komunitas Akar Rumput  (KoAR) Kupang : Alfian Ama Ola : Wakil Koordinator
Perkumpulan Relawan CIS TIMOR : Harys Ch. Oematan, ST : Wakil Direktur
FORMASI NTT : Paul Sinlaeloe, SH : Ketua
Forum Akademia NTT : Wilson Therik, M,Si : Moderator
NTT Policy Forum : Zarniel Woleka :
Generasi Muda Anas (GMA) TTS : Andi Kabu : Ketua
BEM STIM Kupang : Jafrid Lete : Ketua
Forum Study Feto Mone (FSFM) TTS : Wilson Sanam : Ketua
Ikatan Mahasiswa Asal Amanuban (IKMABAN) TTS : Frits Salem : Ketua
BEM Fak. Hukum UKAW : Barnabus Buruhaingu : Ketua
BEM Fak. Theologi UKAW : : Ketua
Perkumpulan Inisiatif Advokasy Rakyat (PIAR) NTT : Patje Saubaki : Koordinator divisi Advokasy
RUMAH PEREMPUAN Kupang : Libby Sinlaeloe :

Koordinator

Kontak person untuk penjangkauan media adalah :

Winston Rondo/BPP GMIT Sinode, (HP:0811383960),

Paul Bolla/GAMKI NTT HP: 0811381481 dan

Paul Sinlaeloe/FORMASI Hp: 085239052689.

Dari Eden ke Tanah Timor:

Tentang Potret Diri Manusia, Kegagalan, Keselamatan,

dan Panggilan Pemberitaan Injil

 Deky Hidnas Yan Nggadas, M.Div.[1]

 

Fenomena Facebook: Siapakah Manusia Itu?

Akhir-akhir ini Facebook (FB) sangat digandrungi. Pendeta, Ustad, politikus, pengajar, penyair, pelajar, karyawan, dsb. Singkatnya, jika anda ingin “berjumpa” dengan semua profesi yang pernah digeluti di dunia ini, maka FB-lah tempatnya. Dengan berkumpulnya semua kalangan ini, otomatis postingan-postingannya pun beragam, sesuai latar belakang setiap orang. Anda akan menemukan puisi-puisi nan sejuk dari Nur Jehan, Emmy Sahertian, dan Bagas Dwi Bawono. Demikian pula renungan-renungan devosional dan teologis dari Johan Balukh, James Lola, dan sebagainya. Tidak ketinggalan undangan untuk menghadiri KKR dari Mangapul Sagala, ditambah lagi refleksi sosio-politis dari Yoyarib Mau. Ada yang mengeluh, ada yang mengungkapkan keriangannya, ada yang menghibur, ada yang mengkritik. Bermacam warna dan nada. Itulah FB.

Saya mencermati fenomena tersebut dan mencoba memikirkan pertanyaan ini. Siapakah manusia itu, sehingga ia, yang walaupun bentuk fisiknya kelihatan sama, tetapi memendam potensi yang tidak terkatakan? Siapakah manusia itu, sehingga tatkala burung hanya bisa berkicau dan bunga bakung hanya bisa bergoyang sembari “tersipu malu” karena hembusan angin, manusia dapat melakukan “segala-galanya”. Ia dapat menulis; ia dapat menangis; ia dapat tertawa; ia dapat berbicara (dari pelan hingga berteriak); ia dapat terlihat menyenangkan, tetapi ia juga dapat terlihat lebih kejam dari harimau yang kelaparan. Ia dapat membangun gedung yang bahkan lebih besar dari tubuhnya 1000 kali lipat. Dan sesudah itu, ia masuk ke dalamnya dan menepuk dada. Gedung yang besar nan menjulang tetapi yang menikmati dan yang merasa bangga adalah makhluk yang bernama manusia. Bagaimana mungkin makhluk yang kecil ini (baca: manusia) dapat eksis dalam berbagai warna dan potensi?

Blaise Pascal pernah merenungkan paradoks ini dan menyatakan,

 

Manusia hanya seperti buluh, benda terlemah di dunia, ia juga merupakan buluh bambu yang dapat berpikir. Seluruh alam semesta tidak memerlukan alat apa-apa untuk menaklukkan dia, uap dan tetesan air cukup mampu membunuh dia. Tapi meskipun alam semesta mampu menaklukkan dia, manusia akan tetap menjadi makhluk yang terhormat dibandingkan alat yang digunakan untuk membunuh dia, karena ia tahu ia pun nantinya akan mati, keuntungan yang dimiliki alam semesta ada di tangannya; dan alam semesta tidak tahu apa-apa tentang hal itu.[2]

 

Siapakah manusia itu?

 

Potret Diri Manusia: Sebuah Paradoks

Kita membaca di dalam Kejadian 1:26-27 bahwa Allah memutuskan untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya.[3]  Gambar dan rupa Allah inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Manusia adalah mahkota dari segala yang diciptakan Allah (bnd. Mzm. 8:3-6).[4] Manusia tidak dapat lagi disebut sebagai manusia, jika gambar dan rupa Allah itu raib darinya. Di sisi lain, hal yang sering luput dari pengamatan kita ketika membaca Kejadian 1:26-27 adalah melihat kaitannya dengan Kejadian 2:7, di mana Allah menciptakan kita dari debu tanah. Saya memberikan penekanan kepada kedua kata tersebut untuk mengingatkan kita bahwa bahkan sejak diciptakan – ketika dosa belum menguasai manusia – manusia wajib melihat dirinya sebagai ciptaaan. Manusia bukanlah Pencipta, manusia diciptakan. Bukan hanya itu, dalam tuturan ayat tersebut, manusia diajak untuk menyadari bahwa ia adalah ciptaan yang dibentuk dari debu tanah.

Pernyataan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah, mungkin tidak terlalu terasa gemanya, karena selain kita kabur akan pengertiannya, juga kita tidak familiar akan situasi historis di belakan pernyataan ini. Namun apa yang dikemukakan oleh penulis Kitab Kejadian ini sebenarnya memiliki signifikansi yang yang besar dalam konteks zamannya. Kitab ini ditulis dalam konteks di mana manusia diklasifikasi dalam dua kelompok. Para raja (misalnya Firaun) dan bangsawan dianggap sebagai “gambar dan rupa Allah”. Mereka dianggap keturunan para dewa, bahkan mengabil bagian dalam natur para dewa. Sedangkan rakyat jelata dianggap sebagai “debu dan tanah.” Para bangsawan dapat memperlakukan rakyat jelata sesuka hati mereka karena hanya merekalah yang memiliki hak prerogatif untuk itu. Rakyat jelata tidak berhak menikmati kenyamanan apa pun karena status mereka sebagai “debu dan tanah”. Itulah sebabnya tidak heran para raja memperlihatkan superioritas dan otoritas mereka dengan membuat patung-patung diri mereka di seluruh negeri untuk mengingatkan rakyat jelata kepada siapa mereka harus taat, sekaligus pada saat yang sama mengingatkan rakyat jelata akan status mereka sebagai yang terendah.[5]

Jelas bahwa kepada orang-orang Israel, penulis Kitab Kejadian menandaskan bahwa SEMUA MANUSIA[6] adalah gambar dan rupa Allah. Kita dapat membayangkan betapa kalimat ini memiliki daya dobrak yang luar biasa. Dalam situasi di mana orang-orang Israel baru saja menjalani perbudakkan yang sedemikian kejam selama 300 tahun karena mereka dikategorikan sebagai “debu dan tanah”, penulis Kitab Kejadian memproklamasikan kepada mereka bahwa mereka adalah gambar dan rupa Allah. Penulis kitab ini (Musa?) mengajak mereka untuk memahami bahwa mereka memiliki harkat dan martabat yang setara dengan Firaun di Mesir. Bukan hanya Firaun yang berhak menikmati status itu. Semua orang berstatus istimewa.

Situasi ini mirip dengan apa yang terjadi pada zaman Yesus. Ketika kaum papah dan marginal di Palestina begitu putus asa akan situasi penjajahan Romawi, hadirlah Yesus dan menyatakan bahwa kepada mereka IA memberitakan tahun rahmat TUHAN telah tiba dan pembebasan bagi orang-orang miskin. Pada kesempatan lain, mereka berusaha menjadikan YESUS raja karena baru saja memberi mereka makan. Contoh lainnya, ketika arus diskriminasi dan ketidakadilan terhadap orang-orang kulit hitam di Amerika, Marthin Luther Jr. King naik ke atas podium dan mengumandangkan pidatonya yang dikenal sepanjang sejarah: I Have a Dream. Bangsa berkulit hitam yang begitu mendapat perlakuan diskriminatif, dan kepada mereka Marthin Luther Jr. King mengungkapkan bahwa ia bermimpi suatu saat situasi itu akan berbalik seratus delapan puluh derajat. Anda dan saya bisa membayangkan betapa kalimat itu terdengar seperti siraman air sejuk di tengah-tengah padang pasir yang menyengat.

Dengan kata lain, ketika penulis Kitab Kejadian mendeklarasikan sebuah pernyataan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kalimat ini boleh kita sebut sebagai injil (baca: kabar baik; kabar sukacita) bagi para pembacanya.

Akan tetapi, deklarasi di atas belum mengungkapkan seluruhnya tentang potret diri manusia yang seutuhnya. Para raja dan bangsawan pada waktu itu bertindak sewenang-wenang dan berfoya-foya karena mereka menganggap diri mereka sebagai gambar dan rupa Allah. Apakah tidak mungkin mereka yang membaca deklarasi ini lalu menjadi lupa diri dan mempraktikan kesombongan para raja dan bangsawan tersebut? Bisa jadi!

Beberapa waktu lalu seorang teman pernah bercerita tentang sebuah keluarga di suatu tempat. Keluarga ini sudah sejak lama hidup dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Jangankan untuk menyekolahkan anak, untuk kebutuhan pokok sehari-hari saja sangat sulit sekali. Bertahun-tahun kondisi itu berlangsung dan sepertinya sampai mati mereka akan tetap hidup dalam kemelaratan. Meskipun begitu, mereka dikenal oleh orang-orang sekampung mereka sebagai keluarga yang harmonis dan suka menolong. Namun hal itu berubah sama sekali ketika salah seorang anak perempuannya dinikahi oleh putra dari salah seorang terkaya di kabupaten mereka. Otomatis kondisi ekonomi mereka berubah drastis. Dari tidak punya apa-apa, sekarang mereka memiliki segalanya. Rumah yang bagus, perabotan yang mahal, mobil mewah, dsb. Lalu suatu ketika, datanglah seorang tetangga mereka dulu dan meminta bantuan karena anaknya sedang sakit. Bukannya membantu, malah dengan kasar keluarga itu menolak permohonan bantuan tersebut.

Penulis Kitab Kejadian tidak membiarkan para pembaca kitab ini jatuh ke dalam perangkap itu. Dalam Kejadian 2:6-7, penulis kitab ini mengemukakan sisi yang lain dari potret diri manusia. Dia menulis bahwa manusia yang adalah gambar dan rupa Allah itu juga diciptakan dari debu dan tanah. Sebagaimana yang kita telah bahas di atas, konsep “diciptakan dari debu dan tanah” sangat dimengerti dengan baik oleh orang-orang Israel. Mereka pernah berada dalam perlakuan yang hina di Mesir dan itu, sedikit banyak, berhubungan dengan pandangan bahwa mereka adalah debu dan tanah.

Dengan mengemukakan bahwa manusia diciptakan dari debu dan tanah, tampaknya penulis Kitab Kejadian ingin agar mereka yang membaca kitabnya tidak terperangkap oleh kepongahan diri karena merasa bahwa mereka adalah gambar dan rupa Allah. Seolah-olah mereka memiliki martabat dan otoritas yang tanpa batas sebagaimana yang mereka lihat di sekeliling mereka. Mereka juga harus mengingat dengan jelas bahwa mereka adalah makhluk yang rapuh dan terbatas. Richard L. Pratt kemudian melihat bahwa konsep di ataslah yang melatarbelakang pentingnya memperlakukan orang lain. Mudah sekali seorang yang teraniaya menjadi penganiaya karena hatinya pahit akan pengalaman itu. Itulah sebabnya, kepada Israel diingatkan supaya melindungi para janda, yatim piatu dan orang-orang asing (Ul. 14:29; 24:19-21). Para hakim tidak boleh berpihak (Kel. 23:6-9; Ul. 1:16-17). Alasannya bukan hanya karena Israel pernah mengalami pengalaman itu maka mereka tidak boleh mengingatnya. Alasan yang terpenting adalah bahwa semua orang adalah gambar Allah sehina, serendah, semiskin apa pun dia.[7] Meskipun begitu, kita harus selalu mengingatkan diri kita, sebagaimana yang dikemukakan Pratt, “Manusia pertama bukanlah gambar dan rupa Allah yang bertabur berlian yang indah dan mewah; ia tidak dibentuk dari logam berharga. Ia hanyalah satu sosok dari tanah liat.”[8]

Itulah Pardoksitas potret diri manusia: mulia sekaligus hina!

 Kegagalan dan Jalan Keluar

Apakah tujuan Allah menciptakan manusia?

Telah dikemukakan di atas bahwa pada waktu itu para raja cenderung membangun patung-patung di seluruh negeri kekuasaan mereka untuk mengingatkan rakyat akan siapa yang berotoritas dan mengontrol hidup mereka sesehari. Artinya, patung raja itu adalah gambar yang kelihatan dari sang raja. Patung itu sendiri bukanlah raja tetapi dia mewakili kehadiran, otoritas, dan wewenang raja. Dalam latar belakang seperti ini, penulis Kitab Kejadian mengemukakan bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah. Dan itu berarti bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang mewakili, merefleksikan, dan memancarkan Penciptanya.[9] Manusia tidak ada secara kebetulan atau karena suatu proses evolusi. Manusia diciptakan sebagai mahkota dari segala yang telah diciptakan dengan menyandang suatu tanggung jawab dari Penciptanya.

Pertanyaannya adalah apakah TUHAN memerlukan manusia untuk mewakili, merefleksikan, dan memancarkan Diri-Nya? Pertanyaan ini mungkin akan ditanyakan bahkan oleh para pembaca pertama kitab ini. Mereka sudah terbiasa mendengar mitologi Babilonia yang menyatakan bahwa manusia diciptakan untuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh para dewa. Para dewa ingin bermalas-malasan, maka mereka menciptakan manusia agar menggantikan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Anda juga mungkin ingin tahu jawaban dari pertanyaan ini. Untuk itu, ada baiknya kita menyimak pendapat dari Wayne Grudem yang pernah mengulas secara ringkas pertanyaan ini. Grudem menyatakan bahwa Allah tidak menciptakan kita karena dia kesepian atau pun karena IA membutuhkan kita. Allah menciptakan kita karena IA menetapkan supaya kita yang diciptakan-Nya memancarkan kemuliaan-Nya kapan dan di mana saja.[10]

Akan tetapi, Kejadian 3 merupakan anti klimaks dari tujuan tersebut. Anti klimaks itu adalah ketika manusia menyangkali kemanusiaannya (sebagai gambar dan rupa Allah yang harus taat dan memuliakan Allah) dan ingin menjadi seperti Allah. Sejak itulah segala kemalangan, duka, dan nestapa menjumpai manusia tanpa manusia berkuasa menampiknya. Manusia, sejak itu mati di dalam dosa dan kuasa dosa. Namun jangan salah paham. Tragedi dan kemalangan terbesar yang pernah terjadi dalam hidup manusia bukanlah perasaan keterasingan, peperangan, kebencian, penyakit, gempa bumi, banjir, tsunami, bahkan kematian sekalipun. Itu semua juga adalah kemalangan dan tragedi. Sesungguhnya, tragedi terbesar itu adalah ketika Adam dan Hawa memilih untuk menaati Iblis, yang olehnya membawa seluruh ciptaan ke dalam bahaya yang sedemikian besar: dosa!

Saya pernah memikirkan apakah Adam dan Hawa tidak mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan mereka itu sebelum mereka melakukannya? Saya yakin mereka mempertimbangkannya tetapi perhatikan bahwa Alkitab menyatakan mengenai daya tarik dari pohon ujian itu (Kej. 3:6). Ternyata daya tarik dosa itu begitu besar sehingga memikirkan tentang konsekuensinya saja tidak cukup untuk menghentikan seseorang dari dosa. Apakah para perampok tidak mempertimbangkan bahwa konsekuensi dari tindakan mereka adalah kematian atau paling tidak penjara? Apakah para koruptor tidak mempertimbangkan bahwa satu kali kelak perbuatan hina itu akan terkuak lalu membuahkan penjara atau paling tidak hinaan dari sesama mereka? Saya yakin mereka mempertimbangkannya. Lalu apa yang mendorong mereka untuk tetap melakukannya? Jawabannya hanya satu: daya tariknya! Daya tarik itulah membuat kita berpikir bahwa konsekuensi yang akan kita tanggung itu tidak sebanding dengan kenikmatan atau kesuksesan dan sebagainya yang ditawarkan olehnya.

Sebuah kalimat yang sangat terkenal dari John Stott, yang juga sering dikutip oleh para penulis Kristen, berbunyi demikian: “[Dosa] bukan merupakan temuan para pendeta supaya mereka tetap memiliki pekerjaan; dosa adalah fakta pengalaman manusia.”[11] Dosa yang dilakukan itu bersifat memperbudak kita bahkan mendatangkan konsekuensi kekal (Rm. 3:23; 6:23a; dsb).[12]  Semua manusia HARUS dan PASTI dibinasakan. Allah adalah Allah yang suci dan kudus maka IA tidak mungkin menoleransi dosa.

Saya percaya bahwa cara pandang (perspektif) di atas benar! Tragedi inilah yang mengawali segala kemalangan manusia di bawah matahari. Akan tetapi, bukan hanya itu yang perlu diketahui manusia. Manusia juga harus tahu bahwa “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). J. Gresham Machen menulis, “Alkitab memberitahu kita bukan hanya tentang dosa manusia; Alkitab juga menyatakan kepada kita sesuatu yang lebih besar; Alkitab memberitahu kita tentang kasih karunia dari Allah yang kepada-Nya kita telah bersalah”.[13] Untuk itu, kepada mereka yang belum percaya, wajib diberitakan tentang kabar sukacita ini: kabar bahwa kini Allah telah menetapkan satu-satunya jalan keselamatan, yaitu di dalam Kristus Yesus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12; Rm. 10:14). Oleh karena tidak ada jalan lain lagi!

Orang-orang Post-Modern, termasuk kaum pluralis sering kali komplain (keberatan) dengan cara pandang ini. Menurut mereka kalau keselamatan itu hanya di dalam Kristus maka itu berarti membatasi kasih Allah. Menurut mereka, eksklusivisme ini bersifat imperialistik dan triumphalistik. Ini adalah pandangan yang angkuh. Kira-kira demikian paraphrase dari keberatan mereka. Mereka bertanya, “Mengapa hanya ada satu jalan ke sorga? Bukankah ke banyak jalan ke Roma?” Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang SALAH TOTAL. Pertanyaan yang seharusnya adalah: “Mengapa masih ada satu jalan?” Bukankah Alkitab berkata bahwa manusia yang berdosa harus mati? Adakah orang yang dapat berkata bahwa dia tidak berdosa sama sekali? Jika semua manusia telah berdosa dan upah dosa adalah maut, maka keinginan untuk menemukan “banyak jalan” bukan merupakan kerendahhatian [karena mengakui keabsahan klaim agama-agama dunia]. Bukan pula keterbukaan [karena olehnya klaim-klaim agama-agama dunia mendapat tempat yang setara].[14] Ini adalah keangkuhan. Ini pula adalah penyangkalan terhadap keadilan Allah, sekaligus pelecehan terhadap kasih Allah yang berdaulat. Jika Allah adalah adil [karena IA mahasuci], maka IA tidak berlebihan jika IA menetapkan bahwa dosa mesti berbuah maut. Jika Allah mahakasih, dan kasih-Nya adalah kasih yang berdaulat, maka bukan merupakan imperialisme dan triumphalisme, jika IA menetapkan jalan satu-satu-Nya di dalam Kristus. Jadi adalah sikap yang sombong dan tidak tahu berterima kasih kalau jalan satu-satunya bagi keselamatan kita yaitu melalui Yesus Kristus ditolak karena merasa bahwa tersedia banyak jalan ke sorga. Seharusnya kita mengaku bersama Paulus sambil bersyukur karena “…oleh kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).

 

Panggilan Pemberitaan Injil; Panggilan Pemulihan Gambar Allah

Sebenarnya pada bagian terakhir poin di atas, kita telah menyinggung soal panggilan dan urgensi (pentingnya) pemberitaan Injil, yaitu karena hanya ada satu jalan keselamatan: Kristus Yesus! Meskipun begitu, pada bagian ini saya akan memusatkan perhatian pada beberapa isu yang sering kali diabaikan dalam pembahasan tentang panggilan pemberitaan Injil.

Dari abad ke abad, Amanat Agung Yesus Kristus (Mat. 28:19-20) mayoritas dikaitkan secara spesifik dengan dosa.[15] Janji tentang “keturunan perempuan” (the seed of the women) dalam Kejadian 3:15, dilihat sebagai proto evangelium (janji Injil yang pertama). Dan kita tahu bahwa janji itu dicetuskan TUHAN pasca kejatuhan manusia. Manusia dianggap telah berada di bawah kuasa maut karena telah mengingkari perintah TUHAN dengan menuruti bujukan Iblis (Rm. 3:23; 6:23a; bdn. Kej. 2:16-17; dsb). Cara pandang ini menempatkan proto evangelium tersebut sebagai jalan keluar yang dijanjikan oleh Allah sendiri, yang nantinya digenapi di dalam Yesus Kristus. Itulah sebabnya, ketika Kristus telah menggenapi tugas kemesiasan-Nya di bumi (berinkarnasi, melayani, menderita, mati, dan bangkit), IA memberikan perintah supaya segala bangsa dijadikan murid-Nya.[16] Dan memang demikianlah seharusnya kita melihat pokok ini.

Seperti yang sudah Anda baca, pokok penekanan di atas juga mewarnai isi artikel ini. Meskipun demikian, saya percaya bahwa ada sesuatu yang lebih dari sekadar masalah dosa lalu pemberitaan Injil itu menjadi penting. Sebagaimana telah dijelaskan di awal artikel ini bahwa sebelum manusia berdosa, mereka adalah gambar dan rupa Allah. Dan juga menjadi semacam kesepakatan bersama oleh mayoritas sarjana Reformed bahwa gambar dan rupa Allah itu tidak hilang, melainkan rusak total saat manusia berdosa. Dan saya juga menganut pandangan ini. Maksud saya, jika perspektif ini benar maka kita harus mengaku bahwa manusia yang telah diperbudak oleh dosa itu pun masih merupakan gambar Allah (tentu gambar Allah yang sudah rusak total tapi toh masih tetap gambar Allah). Artinya sebagai gambar Allah, walaupun dalam kondisi berdosa, mereka tetaplah makhluk yang harus dipahami, didekati, diperlakukan sebagai makhluk yang berharkat dan bermartabat, siapa dan apa pun status sosialnya dalam masyarakat.

Mengenai pentingnya konsep ini ditekankan akan saya jelaskan dalam bentuk analogi sebagai berikut. Tatkala anda melihat seorang nenek tua renta, berpakaian compang-camping, anda tahu bahwa di bukan orang Kristen. Anda berniat memberitakan Injil kepada dia. Pertanyaan saya, apakah yang ada dalam benak saudara mengenai perempuan tua tersebut? Pasti perasaan iba, tetapi bukan itu saja. Saudara kemungkinan besar berpikir – tentunya sebagai seorang Injili – bahwa orang ini adalah orang berdosa yang sedang berada di jalan kebinasaan. Dia harus adalah yang dilaknat Allah karena hidup di luar Kristus. Namun sayang sekali, perempuan itu menolak mentah-mentah maksud baik anda.

Sekarang saya mengajak anda untuk membandingkan contoh di atas dengan contoh berikut. Anda melihat perempuan yang sama dan anda mengingat bahwa semua manusia adalah gambar dan rupa Allah. Semua manusia bermartabat dan berharkat karena status tersebut. Anda juga sadar betul bahwa gambar dan rupa Allah itu telah rusak oleh dosa. Anda mendekati dia bukan hanya sebagai orang berdosa tetapi gambar dan rupa Allah yang sudah rusak (baca: berdosa). Anda memberitakan Injil namun sayang ia tidak dapat menerima maksud baik anda.

Dua contoh di atas sangat mirip tetapi berbeda dalam cara pandang kita terhadap mereka yang kita injili. Yang pertama cenderung menekankan tentang ketidaklayakan mereka yang diinjili. Yang kedua menghormati dan menghargai mereka sebagaimana seharusnya (karena mereka adalah gambar Allah). Tentu ada sebagian orang yang telah terkondisi dengan tataran sikap sopan santun yang dapat menunjukkan sikap itu terhadap siapa pun. Namun penekanan saya di sini bukan sekadar pada bagaimana kita memperlakukan mereka, melainkan juga pada bagaimana kita memandang mereka.

Itulah sebabnya, menurut saya – dan tentunya jika analisis di atas benar – kita dapat menyebut tugas pemberitaan Injil sebagai tugas pemulihan gambar Allah. Tentu bukan kita yang memulihkan gambar Allah itu. Itu adalah karya dan anugerah Tuhan semata. Ini berbicara mengenai tujuan pekabaran Injil itu sendiri. Injil diberitakan kepada seseorang bukan sekadar karena di manusia berdosa yang harus diampuni dosanya, melainkan juga karena dia adalah gambar Allah yang rusak total dan mesti dipulihkan di dalam Kristus. Itulah panggilan pemulihan gambar Allah.

Selain itu, kita dapat menarik implikasi dari pembahasaan ini bagi para pemberita Injil sendiri. Para pemberita Injil adalah mereka yang dipanggil untuk menunaikan tugas khusus, yaitu mengabarkan berita keselamatan hanya di dalamKristus secara penuh waktu. Kita dapat berkata bersama Paulus bahwa kita adalah orang-orang yang hina karena dulu tertawan oleh dosa dan kini melayani setelah dibebaskan oleh Kristus, Sang Juruselamat itu (1Kor. 15:9dst). Bahkan berulang kali Paulus menyebut dirinya doulos (budak) Yesus Kristus. Konsep ini sering kali dikarikaturkan (disalahmengerti) seolah-olah sebagai budak (baca: seorang pemberita Injil) tidak memiliki hak sama sekali.[17] Kalau kita membaca 1 Korintus 9, Paulus berbicara mengenai hak-haknya sebagai pemberita Injil. Dan kita dapat memastikan bahwa hak-hak itu tidak cocok dibicarakan jika dia memahami dirinya sebagai budak dalam pengertian yang sesungguhnya.[18] Jika mereka yang masih hidup di dalam dosa saja masih tetap gambar Allah yang bermartabat dan berharkat, bukankah aneh kalau seorang yang sudah dipulihkan justru diperlakukan seperti budak?[19]

 

Panggilan Kita: Dari Eden ke Tanah Timor

Di Eden, manusia diciptakan dengan harkat dan martabat yang luar biasa supaya mereka hidup mewakili dan memuliakan Allah. Harkat dan martabat itu masih berlaku sekarang. Karena tidak satu kali pun harkat dan martabat itu dapat ditiadakan lalu manusia masih tetap menjadi manusia. Ingatlah kita pun adalah orang-orang yang menyandang harkat dan martabat dari Allah, maka jangan rendahkan itu dengan tindakan-tindakan yang sebaliknya. Sebagaimana manusia pertama diciptakan untuk mewakili, merepresentasikan, dan memancarkan kemuliaan Allah, demikian pula kita yang hidup di Tanah Timor saat ini. Panggilan dan tujuan itu tidak pernah dibatalkan. Di Eden, di sebuah kebun nan indah, panggilan itu pernah dicetuskan. Sekarang, di Tanah Timor (tanah yang berbatu-batu, yang diplesetkan: batu bertanah-tanah) pun  panggilan itu perlu kembali diperdengarkan.

Meskipun begitu, perlu juga kita mengingat hal lain yang tidak kalah pentingnya. Di Eden, manusia pertama berdosa dan menjadikan seluruh umat manusia menjadi berdosa dan diperbudak oleh dosa. Alkitab katakan bahwa adapun manusia, segala kecenderungan hatinya hanya membuahkan dosa semata (Kej. 6:5). Sekarang di Tanah Timor, hendaknya kita bukan hanya mengenang dan menyadari status dosa manusia (kita). Sampai hari ini Tanah Timor telah disebut Tanah Injil, karena Allah telah memenangkan hati dan hidup kita, lalu menaklukkannya kepada Kristus. Itulah sebabnya, di sini – jika di Eden Adam dan Hawa mengkhianati kepercayaan Allah – kita kembali berikrar bahwa “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21). Ikrar itu bukan semata-mata demi diri kita, bahwa kita adalah orang beriman; ikrar itu juga mendorong kita untuk menyerahkan diri dan berkata, “Ini aku, utuslah aku” (Yes. 6:9-10; bnd. Flp. 1:22). Janganlah sampai kita menjual warisan alkitabiah ini demi satu mangkuk pluralisme yang kacau itu.

Dolly Parton seorang penyanyi lagu-lagu country yang sangat terkenal dengan lekak-lekuk suaranya yang merdu, pernah menyanyikan sebuah lagu berjudul: Wild Flowers. Penggalan syair dalam lagu tersebut berbunyi demikian: “…wild flowers don’t care where they grow” (bunga-bunga liar tidak peduli di mana mereka tumbuh). Tentu kita yang hidup di Tanah Timor bukanlah wild flowers (bunga-bunga liar) itu. Kita ada di sini karena ada maksud yang mulia. Kita sekalian ditempatkan di Tanah Timor sekarang karena ada rencana yang indah, di mana kita sekalian sedang memenuhi panggilan untuk menjadi seorang pemberita Injil (dalam kata dan perbuatan), yang adalah duta Kristus. Seorang duta yang berbicara dan melakukan segalanya atas nama Kristus. Betapa mulianya panggilan ini. Dan berbahagialah kita sekalian yang dipanggil untuk terlibat dalam proyek maha penting ini.

Ingat, kita sekalian adalah gambar Allah yang berharkat dan bermartabat, maka hiduplah secara berharkat dan bermartabat. Bukan hanya itu, kita sekalian juga dipanggil sebagai duta Kristus, maka bertekunlah dan giatlah menunaikan tugas itu. Bukankah seorang duta wajib dan harus mengupayakan yang terbaik sebagaimana yang ditugaskan kepadanya? Ketika kita sekalian berdiri dan memberitakan Injil, hendaknya kita mengingat pula dengan jelas bahwa mereka yang mendengarkan itu adalah gambar Allah yang rusak total. Mereka membutuhkan pemulihan; pemulihan sebagai gambar Allah yang harus dituntun untuk membawa seluruh hidup mereka kepada Tuhan.

Meskipun begitu, Alkitab berkata, “segala sesuatu ada waktunya.” Waktu sekarang adalah waktu di mana kita sekalian harus dipersiapkan dan mempersiapkan diri sebaik mungkin, sehingga pada waktu kita berdiri atas nama Kristus, mereka yang mendengarkannya tidak mengolok-olok kita lalu Kristus dipermalukan karena mereka menganggap kita tidak cukup qualified untuk menjadi duta Kristus. Perjalanan sudah, sedang, dan terus dimulai dan akan banyak rintangan, tetapi tetaplah setia dan jangan tawar hati. Jika Tuhan yang memanggil kita, maka DIA pulalah yang akan membimbing, menyertai, menguatkan, dan menghibur kita sampai tiba waktunya kita dipanggil pulang ke rumah bapa atau pada waktu Kristus datang kembali. Sekali lagi, jangan pernah ragukan itu. Allah Di Eden dahulu kala, dan Allah yang kita agungkan di seantero Tanah Timor adalah Allah yang sama. Dia tidak berubah bahkan tidak pernah berubah. Dia adalah Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Maka kalau Dia berkata, “Aku menyertai kamu sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20), Dia pasti menepatinya!

 

 


[1] Penulis adalah Dosen Biblika di Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (SETIA) Jakarta dan Chief Editor Departemen Literatur dan Media Arastamar (DELIMA) Jakarta. Beliau meraih gelar M.Div dari Sekolah Tinggi Teologi Amanat Agung Jakarta. Sejak tahun 2008 sampai sekarang, mengikuti program M.Th juga di STT Amanat Agung Jakarta.

[2] Blaise Pascal, Selections from the Thoughts, terj. Arthur H. Beattie (New York: Appleton-Century-Crofts, 1965), 68.

[3] bĕşalmēnû kidmûtēnû (MT); kat’ eikona hēmetern kai kath’ homoiōsin (LXX); ad imaginem et similitudinem nostrum (Vulg). Informasi ini kemudian memicu bukan hanya diskusi, melainkan polemik berkepanjangan di kalangan teolog-teolog Kristen. Dalam sejarah, sejumlah pendapat telah dicetuskan mengenai makna gambar dan rupa Allah. Ada yang memahaminya sebagai kapasitas moral dan rasional manusia. Ada yang menitikberatkan pada aspek komunitasnya (manusia diciptakan sebagai pria dan wanita). Ada yang menekankan tentang aspek fungsional, yaitu dalam hal penguasaan (dominion). Ada yang mengedepankan aspek spiritualitasnya. Ada pula yang menonjolkan aspek representatifnya (bersifat mewakili Allah), dsb. Meskipun begitu, tampak pendapat yang representatif adalah yang pernah dicetuskan oleh Herman Bavinck bahwa gambar dan rupa Allah itu mencakup keseluruhan manusia itu. Manusia adalah  gambar Allah dan bukan sekadar menyandang gambar Allah. Lihat pembahasan mengenai hal ini, misalnya dalam: Herman Bavinck, Reformed Dogmatics: God and Creation, Volume Two, ed. John Bolt, trans. John Vriend (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2004), 533-562; Robert A. Pyne, Humanity and Sin,” dalam Understanding Christian Theology, eds. Charles R. Swindoll & Roy B. Zuck (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson Publishers, 2003), 673-678; Anthony A. Hoekema mendaftarkan pendapat dari tokoh-tokoh penting dalam teologi Kristen mengenai makna gambar dan rupa Allah, seperti: Ireneus, Aquinas, Calvin, Barth, Brunner dan Berkouwer (Manusia: Ciptaan menurut Gambar dan Rupa Allah, terj. Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2003], 43-84. Karl Barth, Church Dogmatics, III/1 (Edinburgh: T. & T. Clark, 1958), 184

[4] Para teolog sering menyebut Mazmur 8:3-6 sebagai “komentar devosional tentang Kejadian 1” (lih. Pyne, “Humanity and Sin,” 677-678).

[5] John H. Walton, Genesis (NIVAC; Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2001), 27-36; Bruce K. Waltke, Genesis, A Commentary (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2001), 65-66.

[6] Istilah “Semua Manusia sebagai gambar Allah” memang tidak terdapat dalam Kejadian 1 dan 2, namun gagasan mengenai hal ini dapat dideduksi dari teks tersebut.

[7] Richard L. Pratt Jr., Dirancang bagi Kemuliaan, terj. Yvonne Ptoalangi (Surabaya: Momentum, 2002), 18.

[8] Ibid., 11.

[9] Lihat penjelasan mengenai arti rupa dan gambar dalam: Walton, Genesis, 130-131; Waltke, Genesis, 65-66.

[10]  Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Nottingham: InterVarsity Press, 1994), 440-441.

[11] John R. W. Sott, Basic Christianity (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1967), 61.

[12] Ibid., 75-76.

[13] J. Gresham Machen, The Christian View of Man, (Reprinted Edition; Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1995), 72.

[14] Topik mengenai klaim kemutlakkan dalam agama-agama dunia, memang topik yang sulit dan hangat didiskusikan. Kekristenan (yang eksklusive) memiliki jawaban untuk topik ini. Namun demikian, penulis mencadangkannya untuk pembahasan pada kesempatan lain.

[15] Robert J. Priest menyatakan, “…konsep manusia berdosa merupakan titik pusat dari usaha penginjilan para misionaris. Baik teologi Injili maupun panggilan misi dan penginjilan, semua menekankan bahwa arti salib dan kebutuhan akan penginjilan dan misi, tidak dapat dilepaskan dari dosa manusia” (“Antropologi Kebudayaan: Dosa dan Misionari,” dalam Allah dan Kebudayaan, eds. D. A. Carson & John D. Woodbridge, terj. Helda Siahaan & Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2002], 106)

[16] Dalam LAI, Matius 28:19-20 memberi kesan seolah-olah terdapat empat perintah (pergi, jadikan murid, membaptis, dan mengajar). Sebenarnya nats ini hanya mengandung satu kata perintah (imperative), yaitu matheteusate (jadikan murid). Kata-kata lainnya (pergi, membaptis, dan mengajar) ditulis dalam bentuk partisip. Dalam bahasa Yunani, bentuk partisip digunakan untuk menjelaskan tentang kata kerja utamanya. Jadi, dalam rangka menjadikan murid, kita harus pergi, membaptis, dan mengajar mereka untuk mengenal dan melakukan segala kehendak Tuhan.

[17] Dalam konteks zaman itu, seorang budak boleh dikatakan manusia yang layak untuk tidak dimanusiakan orang lain. Karena status itu mengungkapkan bahwa ia boleh diapakan saja oleh tuannya, bahkan membunuh dia sekalipun itu bukan merupakan pelanggaran. Para budak, boleh dikatakan hampir-hampir tidak berharga!

[18] Beberapa penafsir mengingatkan kita bahwa penggunaan istilah “budak” (doulos) oleh Paulus bagi dirinya, merujuk kepada sikap takluk dan tanggung jawab mutlak yang dituntut dari dirinya sebagai seorang pemberita Injil. Kristus adalah Tuan dan Paulus adalah pelayan-Nya.

[19] Saya tidak mengatakan bahwa seorang pemberita Injil itu adalah orang yang istimewa dan harus dinomorsatukan. Tidak! Yang saya tekankan di sini adalah kita terlampau memiliki “kerendahhatian” yang tidak dianjurkan Alkitab. Sikap semacam itu adalah perendahan bahkan penyangkalan terhadap kemuliaan gambar Allah yang telah dipulihkan di dalam Kristus. Jangan juga mengajukan keberatan bahwa para rasul sering tidak menggunakan hak mereka bahkan boleh dikatakan tidak memiliki apa-apa (secara material) dalam hidup mereka. Saya setuju itu. Akan tetapi sikap itu lahir dari diri mereka sendiri yang melihat urgensi yang lebih besar daripada sekadar menumpuk kekayaan atau menggunakan hak-hak mereka sebagai rasul. Itu adalah kerelaan dan bukan sistem yang diatur secara eksternal.

So What Gitu Loh??

Oleh: Wilson M.A. Therik, S.E.,M.Si *)

             JANGAN seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12).

            Akhir-akhir ini kita sering mendengar jargon yang menjadi judul tulisan ini meluncur dengan fasih dari mulut anak-anak muda, yang kerap disebut sebagai ABG. Jargon itu bisa bermakna sangat banyak. Secara sederhana bisa menjadi simbol pemberontakan, hal yang sangat kental dalam dunia anak muda. Kira-kira begini, kalo gue nggak punya kerja so what gitu loh? kalo gue pingin pacara sama anak itu so what  gitu loh? Kalo gue pingin rambut gondrong dan di hi-lite so what gitu loh? Dan masih berderet pemberontakan lainnya. Atau bisa jadi semacam pelarian karena enggan memberikan penjelasan. Pendeknya, jargon itu bisa menjadi senjata ampuh buat kaum muda dalam memperkokoh posisinya. Apalagi dalam kondisi di mana orang muda sering dianggap sepele, disalahpahami, dipandang sebagai pembuat onar, dan yang sejenisnya, maja jargon seperti itu semakin menemukan relevansinya.

            Tapi, bayangkanlah kalo kondisi seperti ini dibiarkan terus berlarut. Lihatlah bagaimana jargon itu pada akhirnya bukan hanya populer di kalangan orang muda, tetapi juga di setiap lini masyarakat. Mulai dari anak sampai para lanjut usia bisa dengan fasih mengucap jargon itu. Hanya saja, sekarang jargon itu lebih menunjukkan sisi ketidak-pedulian. Orang boleh bilang apa saja, kalau saya maunya begini dan bukan begitu. So what gitu loh?

            Saya jargon ini baru muncul sekarang, bukan ketika Paulus masih hidup. Tetapi, situasi dan kondisi sekarang hampir tidak berbeda dengan yang dihadapi Paulus dan Timotius dulu. Soal ketidak-pedulian bukan cuma milik masyarakat masa kini. Itu sudah ada sejak zaman dulu kala. Dan ketika kita dihadapkan dengan kondisi seperti ini, memang kita juga bisa saja berkata so what gitu loh? Orang lain saja tidak peduli, mengapa kita mesti peduli? Di republik ini, lebih mudah menemukan orang yang tidak peduli dari pada sebaliknya. Nurani menjadi barang langka. Bahkan mungkin menjadi barang yang tidak lagi menarik, karena itu kalau orang tidak lagi punya nurani so what gitu loh?

            Syukurlah Paulus tidak begitu. Di tengah situasi yang dipenuhi ketidakpedulian, sikap egositik, orang tidak lagi menggunakan akal sehat, dan penyesatan terus berlangsung dalam segala bentuknya, Paulus mengingatkan agar Timotius tidak jatuh dalam kejahatan yang sama. Sebaliknya, ia harus menjadi teladan. Sadar bahwa Timotius masih muda, dan karena itu bisa saja tidak dipedulikan oleh lingkungan, Paulus membesarkan hati Timotius. Kemudaan bukanlah alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Kemudaan bukan saat untuk tidak peduli dan menjadi apatis. Kemudaan justru bisa menjadi kesempatan untuk berbuat sesuatu. Keteladan bukan hanya milik para orang tua. Kalau orang yang seharusnya menjadi teladan gagal menjalankan fungsi keteladanannya, maka orang lain harus bangkit untuk mengambil posisi itu, berapa pun harga yang harus dibayar. Kemudaan justru dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berguna. Justru karena muda, maka lebih banyak hal yang bisa dilakukan.

            Karena itu, Paulus dengan tegas meminta kepada Timotius agar tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk merendahkan dirinya, hanya saja karena ia masih muda. Dan untuk itu, tidak ada cara lain kecuali menunjukkan sebuah mutu hidup yang lebih baik daripada kebanyakan orang saat itu. Hal yang sama juga ditujukan buat kita saat ini. Mungkin dari segi usia, kita tergolong muda. Dari segi apa pun, kita dapat dikatakan mash muda, masih hijau. Tetapi, sekali lagi, itu semua bukan alasan untuk tidak menjadi teladan. Bukan alasan untuk melarikan diri dari panggilan menjadi teladan. Dan karena itu, tidak ada alasan juga untuk bersembunyi di balik jargon populer so what gitu loh?

            Republik ini pernah menelurkan sebuah semangat yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Semangat yang berhasil menggelorakan kaum muda, juga kaum muda kristen  untuk bangkit dan berbuat sesuatu bagi negeri tercinta? Memang setiap angkatan berhak untuk menjadi anak di zamannya. Tetapi, panggilan untuk berbuat da memberi yang terbaik bagi zamannya tidak pernah berubah. Oleh sebab itu, sekali pun zaman berubah, ketidakpedulian meningkat tajam, egosentrik menjadi trend hidup, tidak pernah bisa mengubah panggilan untuk menjadi teladan bagi sesama. Dan itu adalah rahmat bagi orang muda.

            Ah, tetapi semua ini Cuma sebuah suluh. Kalau semua anak muda, juga anak muda kristen enggan untuk menjalankan tugas panggilannya, so what gitu loh?

 

*) Pemuda GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat

TEOLOGI POLITIK

Oleh Paul SinlaEloE

 Teologi politik dalam pengertiannya yang sekarang, muncul pada tahun 1960-an sebagai suatu gerakan di antara sarjana-sarjana Katholik Roma dan Protestan yang mengembangkan suatu hermeneutik baru dalam pemikiran Kristen untuk menanggapi keadaan dan masalah-masalah modern.

Dengan menekankan pada refleksi terhadap konteks sosial dan historis, teologi politik mengkritik bentuk-bentuk metode teologi yang lain, yakni: Pertama, Thomisme tradisional dengan doktrinnya tentang alam dan hukum alam dipandang sebagai anti sejarah. Kedua, Thomisme transenden (Karl Rahner) yang menekankan subyek dianggap anti politik. Ketiga, Pandangan Lutheranisme dengan teori dua kerajaan dan hokum dunia dikritik karena bersifat dualistik dan statis, Keempat, Ajaran Protestan modern (Rudolf Bultmann) dengan keteguhan eksistensialismenya dianggap individualis.

Para penganjur pertama teologi politik berasal dari Jerman, dengan tokoh utamanya: Johannes Baptist Metz, Jürgen Moltmann, Dorothee Soelle, Helmut Peukert. Ajaran teologi politik ini kemudian dikembangkan dan berkembang di negara-negara Barat lainnya seperti: di Spanyol dengan tokoh utamanya Alfredo Fierro, di Kanada oleh Charles Davis, di Amerika oleh Matthew Lamb & John Cobb.

Gerakan untuk mendukung ajaran teologi politik ini sangat kuat dipengaruhi oleh para pembaharu Marxisme seperti: Ernst Bloch, Theodor W. Adorno, Max Hoekheimer, Jürgen Habermas. Para pembaharu Marxis ini menyatukan konsep praktis Marxisme dengan ajaran Kristen tentang eskatologi sebagai dasar untuk membangun pengertian-pengertian tentang relasi antara dunia dan Allah, dosa dan keselamatan, gereja dan masyarakat. Meskipun berorientasi praktis, teologi politik telah berkembang menjadi suatu pendekatan sistematis terhadap etika.

Sejalan dengan itu, maka dalam tulisan ini akan di uraikan beberapa thema khusus etika yang menonjol di dalam karya-karya di bidang ini, yakni: Pertama, Agen Moral Adalah Subyek Politik. Menurut ajaran teologi politik, dunia bukanlah sebuah kosmos (suatu keadaan yang sempurna), dimana setiap satuan menempati suatu tempat yang merupakan kodratnya dan yang dimaksudkan untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Ia bukanlah suatu proses sosio-historis yang petunjuk dan bentuk tetapnya telah ditentukan sejak semula. Karena itu, untuk menjadi manusia, bukanlah dengan menjadi bagian dari suatu hukum dunia, tetapi menjadi subyek, yang dalam interaksinya dengan orang lain diikutsertakan dalam pembentukan masa depan yang kreatif. Dengan dasar ini, teologi politik adalah kritik, baik secara tidak langsung terhadap determinisme yang menekankan pendekatan IPTEK yang berlebihan terhadap masalah-masalah sosial, dan secara eksplisit terhadap keterbatasan materialisme historis. Selain itu, teologi politik adalah kritik terhadap semua struktur sosial yang meniadakan partisipasi politik orang-orang dari berbagai kelas sosial sebagai dehumanisasi dan mendorong partisipasi dalam perjuangan sejarah emansipasi.

Kedua, Janji Allah Sebagai Dasar Keputusan Moral. Dari perspektif teologi politik, sifat dari kehadiran Allah dalam dunia digambarkan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, yang secara dialektis berhubungan dengan keadaan sekarang dan yang akan datang. Dalam penyaliban, Allah dimengerti sebagai hadir dalam penderitaan semua ciptaan. Tanggapan manusia terhadap aspek kehadiran Allah ini secara jelas nampak dalam terminologi empati. Dalam kebangkitan, Allah dimengerti sebagai yang akan datang , sebagai janji yang efektif dari suatu kerajaan yang penuh damai dan keadilan. Kebangkitan adalah suatu simbol eskatologis dalam kontradiksi dimana kondisi aktual dunia sekarang dilihat dan dinilai untuk apa ia ada. Janji Allah yang demikian berfungsi dalam dua arah: sebagai dasar bagi pembentukan keputusan moral dan dasar dari pengharapan bahwa semua struktur dunia dapat ditransformasi.

Ketiga, Penderitaan Sebagai Masalah Moral Dari Sejarah. Dalam teologi politik, konsep penderitaan merupakan pokok yang menggambarkan pengalaman manusia dalam sejarah. Penderitaan, dalam aspek moralnya, disebabkan dan ditopang oleh dosa sosial, oleh tradisi-tradisi dan berbagai institusinya yang menguntungkan beberapa orang, sementara sebagian lainnya tertekan dan mengalami dehumanisasi. Moltmann mencirikan lima lingkaran setan kematian yang melambangkan penderitaan dalam masyarakat kontemporer: (1). Kemiskinan dalam bidang ekonomi. (2). Dominasi suatu kelas/bangsa terhadap lainnya dalam kehidupan politik. (3). Struktur alienasi antara ras, gender, kelompok etnis dalam hubungan kebudayaan. (4). Polusi industri di bidang ekologi. (5). Ada perasaan dimana orang merasa diri tak berarti dan kehilangan tujuan hidup. Menurut Metz, kelima lingkaran setan ini secara bersama-sama merupakan tanda dari penyingkapan masyarakat yang samar-samar. Menurut Lamb, lingkaran ini mendasari suatu dunia penderitaan yang membutuhkan solidaritas dengan para korban.

Keempat, Solidaritas Sebagai Tujuan Pokok Tindakan Moral. Ajaran teologi politik memahami masalah moral adalah hasil dosa sosial dan karenanya tindakan moral harus diarahkan kepada transformasi sosial. Tindakan moral berawal dari solidaritas terhadap penderitaan, dengan orang miskin dan tereksploitasi, tetapi motivasi pokoknya ialah keselamatan menyeluruh dari seluruh dunia (Soelle, Cobb). Dengan demikian tindakan moral dengan sendirinya tidak cukup efektif untuk mempengaruhi penyelamatan dalam pengertiannya yang mistik (sebenarnya terlalu mengada-ada dan berbahaya untuk berpikir bahwa itu mungkin). Yang dimaksudkan oleh teologi politik adalah suatu masyarakat global baru: suatu masyarakat yang melebihi/mengatasi perebutan dan dominasi kelas, suatu masyarakat yag penuh persahabatan (Moltmann) serta terbuka dan bebas berkomunikasi (Peukert). Solidaritas kemudian menandakan suatu identitas sosial yang lebih bersifat inklusif dan umum daripada hubungan saya-kau, yang sebelumnya sudah dikenal dengan baik sekali, dan yang tidak membatasi kepentingan pribadi dibanding relasi-relasi sosial yang saling memberi (Metz).

Kelima, Dasar Misi Gereja Adalah Kritik Moral Terhadap Masyarakat. Gereja menurut teologi politik adalah suatu perkumpulan mesianik dalam masyarakat, yang membangun persekutuan dengan dua sisi sejarah, yakni dari penderitaan dan pembebasan. Ingatan/ kenangan yang berbahaya (Metz) dari penyaliban dan kebangkitan Kristus merupakan suatu panggilan untuk memihak kepada orang-orang yang diabaikan dan yang dikorbankan dan untuk mulai mengikutsertakan mereka dalam praktek yang emansipatif dalam kehidupan sehari-hari yang membebaskan. Dalam beberapa hal gereja bersifat politik, tetapi untuk menjadi benar dalam misinya di dunia modern, gereja harus menjalani suatu reformasi radikal. Secara internal, ia harus menghilangkan tradisi patriakhal dan menjadi gereja yang berasal dari dan untuk semua orang. Secara eksternal, gereja harus menjadi suatu kekuatan yang efektif yang mewakili pemahaman mengenai kerajaan Allah dalam sejarah melalui suatu kritik terhadap pengilahian ekonomi, social dan budaya dan melalui mandat pemuridan yakni keadilan dan cinta yang spesifik/khas.

Keenam, Sosialisme Demokratik sebagai prinsip utama moralitas masyarakat. Dengan menghubungkan kelima lingkaran setan kematian, Moltmann menentukan sejumlah jalan ke arah liberalisasi: sosialisme dalam bidang ekonomi, demokrasi dalam bidang politik, penghargaan terhadap sesama di bidang hubungan kebudayaan, berd mai dengan alam di bidang lingkungan hidup dan di atas semua itu keberanian untuk mewujudkannya. Semua jalan ini menandakan kerajaan Allah yang dijanjikan yakni perwujudan kebenaran. Umumnya teologi politik mendukung sosialisme demokratik dan hak asasi manusia, tetapi Cobb, menghubungkan teologi politik dengan proses berpikir, yang memperdalam dan mengembangkan prinsip-prinsip keadilan sehingga mencakup pula bidang lingkungan hidup. Menghadapi penggunaan kekerasan untuk merubah suatu masyarakat, teologi politik cenderung untuk mengadopsi pandangan bahwa hal tersebut merupakan langkah terakhir dan digunakan secara terbatas. Tetapi, Moltmann menduga bahwa pasivisme (paham yang mengutamakan perdamaian) merupakan satu-satunya tanggapan terhadap ancaman bencana di kemudian hari.

Bertolak dari keseluruhan pemaparan diatas, maka diakhir tulisan ini patut diingat oleh para pemuda kristen bahwa Teori etika harus dikembangkan dan dikaitkan dengan prinsip-prinsip hermeneutik secara tepat untuk membangun pengertian-pengertian tentang relasi antara dunia dan Allah, dosa dan keselamatan, gereja dan masyarakat. Hal ini menjadi penting karena relasi antara dunia dan Allah, dosa dan keselamatan, gereja dan masyarakat mewakili suatu orientasi etik yang sungguh-sungguh berkaitan dengan dunia modern.

LAUDATE PUERI DOMINUM & HASTA LA VICUTORYA SIEMPRE (Pujilah TUHAN Hai Anak-Anak ALLAH dan Berjuang Terus Menuju Kemenangan Abadi).

————————————

Penulis: Pemuda Gereja Ebenhaezer Tarus Barat dan Staf Div. Anti Korupsi PIAR NTT

 

Deky H. Y. Nggadas, M.Div.[1]

Pendahuluan

Secara umum, dapat dikatakan bahwa pokok penekanan kitab Amsal berkenaan dengan persoalan tentang bagaimana seseorang hidup secara berhikmat.[2] Dalam bagian prolognya (Ams. 1:1-4), pokok ini dideskripsikan sebagai tujuan kitab ini ditulis, yaitu untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tidak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda. Menurut para ahli, misalnya Tremper Longman dan Raymond B. Dillard, bagian prolog ini merupakan tambahan redaktor terakhir dari kitab ini, mengingat nuansa religius yang tercantum di dalamnya.[3] “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan” (Ams. 1:7). Jadi, tujuan ini bukan bersifat etis saja, sebagaimana yang sering terdengar dalam amsal-amsal ancient Near-East, melainkan juga bersifat teologis.

Adapun tujuan di atas dieksplorasi sang kolektor[4] dengan menempatkan amsal-amsal yang berbicara tentang tema yang beragam untuk dikaitkan dengan hikmat sebagai tema utama. Eldon Woodcock menjelaskan, Istilah “hikmat” yang muncul sekitar 101 kali dalam kitab Amsal tidak bisa tidak harus dilihat sebagai tema utama dari kitab ini” [5] Selain itu, salah satu penekanan yang juga sering kali muncul dalam kitab ini, yang digunakan sebagai antitesis dari hikmat adalah kebodohan. W. S. Lasor, dkk., menyatakan bahwa pengoleksian amsal-amsal tersebut memiliki tendensi yang kuat untuk “memperlihatkan secara tajam kontras antara akibat mencari dan menemukan hikmat dengan akibat mengejar kehidupan yang bodoh”.[6] Masalah hikmat dan kebodohan mewarnai seluruh isi kitab Amsal. Tidak heran jika dalam komentar-komentar tentang kitab ini, selalu disertakan pilihan: mengikuti hikmat atau kebodohan.[7]

Dalam makalah ini, penulis akan menggunakan pendekatan tematis[8], khususnya untuk meneliti makna “orang bodoh” dalam kitab Amsal. Menurut Denis Green, kitab ini memuat tiga istilah yang merujuk kepada “orang bodoh” (lywIa/), yakni: orang yang tidak berpengalaman (ytiP,), orang bebal (lysiK.), dan pencemooh (!Acl’).[9] Meskipun demikian, penulis akan membatasi penelitian dan analisis pada istilah “orang yang tidak berpengalaman”. Namun sebelumnya, penulis akan menguraikan secara ringkas tentang personifikasi hikmat dan kebodohan dalam kitab ini. Jadi, sistematika penulisan makalah ini adalah: A) Personifikasi Hikmat: Wanita Bernama Hikmat dan Wanita Bodoh; dan B) Amsal-amsal tentang Bodoh: “Orang yang Tidak Berpengalaman”

A.  Personifikasi Hikmat: Wanita Bernama Hikmat dan Wanita Bodoh

Beberapa paragraf dalam kitab Amsal menampilkan hikmat dengan karakteristik manusiawi (personifikasi). Hikmat digambarkan sebagai seorang wanita yang berupaya menarik perhatian orang-orang di jalanan, di lapangan-lapangan, di atas tembok dan di depan pintu gerbang kota (Ams. 1:20-23) serta menawarkan upah yang menarik bagi mereka yang tertarik kepada seruannya (Ams. 8:34-35). Mungkin tempat-tempat ini penting untuk didatangi hikmat karena terkait dengan Social Setting pada waktu itu. Menurut David Atkinson, tempat-tempat ini selain merupakan pusat keramaian dan kehidupan publik, juga merupakan tempat-tempat di mana keputusan-keputusan seputar masalah keadilan, dan kesejahteraan rakyat dibicarakan oleh tua-tua kota.[10] Wanita bernama hikmat ini mendatangi tempat-tempat tersebut karena di sana ia dapat mempengaruhi sebanyak mungkin orang dari semua kalangan. Ia ingin agar sebanyak mungkin orang menikmati berkat dan kesuksesan karena berelasi dengannya (bnd. 3:13-18).

Selanjutnya, ketika memperkenalkan hubungannya dengan Allah, hikmat menyebut dirinya sebagai putri kesayangan yang setiap hari bermain dengan riang di hadapan Allah (8:22-30). Sebelumnya hikmat menginformasikan bahwa ia berasal dari Allah, yakni “sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala” (8:22 dst.). Maka kita dapat memahami mengapa di awal kitab ini diingatkan kedekatan perolehan hikmat dan relasi yang baik dengan Tuhan (Ams. 1:7; diulangi lagi dalam ps. 9:9). Goldberg[11] menegaskan bahwa salah satu jalan terpenting yang memimpin seseorang memperoleh hikmat adalah “communion with God” (selain beajar dari observasi, pengalaman, dan tradisi).[12]

Di lain pihak, kebodohan juga dibahasakan secara personifikatif (Ams. 9:12-17). Identitasnya tidak dijelaskan panjang lebar. Ia hanya digambarkan sebagai seorang wanita yang “bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu.” Perempuan ini berupaya menularkan sifat-sifat buruknya dengan panggilan yang menarik perhatian audiensnya. Ia menawarkan kenikmatan dari suatu relasi yang intim, padahal kebersediaan untuk mengikutinya akan menuntun kepada maut.

Para ahli Pernjanjian Lama sampai saat ini masih memperdebatkan tentang identitas Wanita Hikmat dan Wanita Bodoh. Longman, walaupun mengakui adanya kepelbagaian pendapat soal identitas mereka, yakin bahwa Wanita Hikmat mewakili Yahweh sendiri, sedangkan Wanita Bodoh mewakili dewa-dewa Mesir, atau Mesopotamia (dewa-dewi Kanaan yang sering kali memikat hati Israel adalah Baal dan Asherah). Ia mendasarkan pendapatnya atas deskripsi tentang tempat tinggal kedua wanita tersebut (bnd. Ams. 9:1-2, 13-18).[13] Di lain pihak, tampaknya R. B. Y. Scott tidak sependapat dengan Longman, karena ia menyatakan, “Personification of wisdom is indeed poetic and not ontological.”[14] Selain itu, B. Lang menyatakan, “Woman Wisdom is a pedagogical device.”[15] Sebenarnya pendapat Lang berpusat pada asumsi tentang monotheisme patriakhal Israel. Penulis sendiri lebih sependapat dengan Roland E. Murphy, yang menyatakan “Pendapat yang mengasosiasikan secara ketat Wanita Hikmat dengan YHWH masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut”, karena nuansa teologi Israel yang patriakhal juga tidak dapat diabaikan,[16] selain perspektif puitis yang diungkapkan Scott.

Mengapa hikmat dan kebodohan dipersonifikasikan sebagai wanita? Pertanyaan ini juga memiliki jawaban yang bervariasi. Salah satu jawaban yang disepakati mayoritas ahli adalah daya tarik hikmat dan kebodohan sebagai penekanan yang ingin diperlihatkan para penulis kitab Amsal. Daya tarik tersebut berusaha ditonjolkan dengan menempatkan figur wanita sebagai personifikasi hikmat maupun kebodohan. Hal ini didukung oleh adanya nuansa seksual di balik undangan hikmat dan kebodohan.[17] Longman, misalnya, menjelaskan bahwa meskipun kedua wanita tersebut menawarkan sifat jamuan yang bertolak belakang (wanita bernama hikmat menawarkan jamuan yang bersifat positif, sedangkan wanita bodoh sebaliknya), namun berdasarkan latar belakang sosialnya, kita dapat memahami bahwa “dalam kebudayaan Timur-Dekat purba, duduk makan bersama seseorang adalah suatu bentuk relasi yang intim dengan orang tersebut”.[18] Seseorang tidak dapat bersikap tidak serius terhadap hikmat atau kebodohan. Ini adalah natur dari relasi antara seseorang dengan kedua wanita tersebut. Itulah sebabnya, Atkinson menekankan, “Personifikasi itu merefleksikan natur dari relasi dengan keduanya.”[19] Ditinjau dari daya tariknya, hikmat dan kebodohan tidak boleh dianggap hanya sebagai konsep yang abstrak; mereka dapat menjadi nyata seperti halnya seorang perempuan dengan daya tarik yang sangat kuat, karena keduanya “embodied”.[20]

Menarik untuk dicermati bahwa baik wanita bernama hikmat mapun wanita bodoh mendatangi tempat  dan audiens yang sama. Audiens mereka adalah semua orang yang mereka temui di jalanan, lapangan-lapangan, dan pintu gerbang kota. Hal itu berarti bahwa mereka yang mendengarkan ajakan kedua wanita itu dapat digambarkan sebagai orang yang berada “di persimpangan jalan”. Keputusan mereka terhadap ajakan kedua wanita itulah yang nantinya menentukan identitas apakah yang layak dilekatkan kepada mereka (termasuk konsekuensi dari keputusan tersebut).

Terkait dengan penjelasan di atas, tampaknya kitab Amsal mencoba memberikan gambaran lebih jelas mengenai identitas dan akibat yang tersedia bagi mereka yang tidak menghiraukan undangan hikmat. Orang-orang yang demikian, disebut dengan istilah “orang bodoh”. Itulah sebabnya, berikut ini penulis akan meneliti lebih lanjut tentang karakteristik dari “identitas” dan akibat yang tersedia bagi “orang-orang bodoh” tersebut

B.  Amsal-amsal tentang Orang Bodoh: “Orang yang Tidak Berpengalaman”

Sebelum masuk ke dalam uraian tentang “orang yang tidak berpengalaman”, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan istilah “orang bodoh” dalam kitab Amsal.

1. Istilah “Orang Bodoh” dalam Kitab Amsal

Saat ini, mayoritas orang memahami bahwa kebodohan lebih terkait dengan intelektualitas atau aspek kognitif. Pengertian yang demikian juga terlihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengaitkan pengertian “bodoh” dengan orang yang “tidak mudah tahu atau tidak dapat mengerjakan sesuatu” dan “tidak memiliki pengetahuan”.[21] Tampaknya definisi ini menekankan tentang kesulitan seseorang dalam hal pengetahuan (knowledge) dan praktiknya. Maka konsekwensi logis dari penekanan ini menempatkan istilah “bodoh” sebagai antitesis dari “pintar/pandai”.[22] Mungkin presuposisinya adalah bahwa kualitas intelektual seseorang memberikan dampak langsung kepada kemampuannya untuk mengetahui dan bertindak. Konkretnya, orang yang (mampu untuk) mengetahui banyak hal, kemungkinan besar dapat mengerjakan sesuatu dengan baik; sedangkan orang berpengetahuan sedikit akan kesulitan untuk mengerjakan sesuatu. Kualitas intelektual seseorang sangat menentukan kualitas tindakan atau pekerjaannya.

Dalam TDOT, dijelaskan bahwa Kata Ibrani lywIa/ (“bodoh”; yang digunakan sebanyak 19 kali dalam kitab Amsal), selain digunakan sebagai antitesis untuk hm’k.x’ (hikmat), juga sebagai antitesis dari kata rv’y” (tegak lurus, jujur, tulus) dan kata lk;f’ (bijaksana).  Arti dari kata ini berbeda-beda sesuai dengan konteks penggunaannya. Dalam awal sirkulaisinya (mungkin dalam konteks Mesopotamia, dimana kata ini diasosiasikan dengn dewa Marduk)  kata lywIa digunakan untuk menggambarkan cacat tubuh atau mental. Namun dalam konteks literatur hikmat (khususnya literatur hikmat PL), istilah ini digunakan sebagai penghinaan yang ditujukan kepada “untactful babbler of the Wisdom School”. Dalam konteks international wisdom, kata ini hanya digunakan secara praktis-etis: tidak bertindak benar, mengabaikan nasihat orang tua, dsb. Hal itu berarti bahwa awalnya istilah “bodoh” tidak berkoneksi dengan Yahweh atau hukum sebagaimana dalam koleksi hikmat dari Salomo. Selanjutnya, secara teologis, arti kata ini merujuk kepada orang yang mengabaikan, menolak, menghina Allah dan kebenaran-Nya melalui sikap, tutur kata, maupun pikiran mereka (bnd. Ul. 28:34; Mzm. 14:1; Yes. 19:11; Yer. 22:16; Hos. 13:13, dsb)[23]

Lasor dkk., menyatakan,

Kebodohan bukanlah ketidaktahuan, melainkan sikap meremehkan prinsip-prinsip moral dan kesalehan secara sengaja. Kemerosotan moral, hilangnya tanggung jawab rohani dan ketidakpekaan sosial yang digambarkan dalam Yesaya 32:6 merupakan ringkasan yang cocok untuk pandangan kitab Amsal tentang orang bodoh.[24]

Scott menulis, “Sebagaimana hikmat, demikian pula kebodohan terkait dengan nilai-nilai religius”.[25] Jadi, bodoh bukan semata-mata antonim dari “pintar atau pandai”, melainkan dapat juga dipahami secara etis maupun teologis.

2.  Orang yang tidak berpengalaman

Istilah “orang yang tidak berpengalaman” digunakan dalam kitab Amsal sebanyak 14 kali (Ps. 1:4, 22, 32;7:7; 8:5; 9:4, 13, 16; 14:15, 18; 19:25; 21:11; 22:3; dan 27:12). Kata bahasa Ibrani yang digunakan dalam bagian-bagian ini adalah: ytiP, yang dapat diterjemahkan sebagai:  “simple, foolish, young, naive person”.[26] William Dyrness menjelaskan bahwa sebenarnya secara sederhana, istilah ini mengindikasikan suatu sikap yang lugu.[27] Artinya tidak terdapat nuansa negatif di balik arti literal istilah ini. Namun dalam perkembangannya, istilah ini digunakan secara idiomatis untuk orang yang karena terlalu polos sehingga mengabaikan segala pertimbangan yang seharusnya dilakukan.[28] Demikian pula yang dijelaskan dalam TWOT bahwa ide dasar dari istilah ini adalah “be open, spacious, wide,”. Berdasarkan ide dasarnya, istilah ini kemudian direlasikan dengan ketidakdewasaan atau orang yang bersikap terbuka terhadap segala sesuatu tanpa mempersoalkan benar atau salahnya (bnd. Kel. 22:15; Hak. 14:15-16; dan 2 Kor. 18:19-21).[29] Itu berarti terjemahan LAI terhadap kata ini lebih mendekati arti idiomatisnya daripada arti literalnya (beberapa versi Alkitab, antara lain: NIV, KJV, YLT, ASV, NJB, dsb., menerjemahkan kata ini secara literal: “simple”)

Paling tidak terdapat tiga karakteristik yang tergambar melalui penggunaannya dalam amsal-amsal tentang orang yang tidak berpengalaman.

Pertama, orang tidak berpengalaman adalah orang yang tidak berpikir panjang. Amsal 7:1 dst., mengisahkan tentang nasihat seorang ayah kepada anaknya (atau seorang guru kepada muridnya)[30] agar menjauhi bujuk rayu dari seorang perempuan jalang. Sang ayah menganjurkan agar anaknya memperhatikan nasihat tersebut dengan serius. Misalnya, dalam ayat 1 & 2, sang ayah memerintahkan agar anaknya  “berpegang” (rmoæv) kepada perkataan-perkataannya (rm,ae noun common masculine plural construct suffix 1st person cs; LAI menerjemahkannya dalam bentuk tunggal: “perkataanku”), yang memberikan kesan tentang suatu sikap yang sangat serius dalam hal memperhatikan, menjaga atau memelihara sesuatu yang sangat berharga “seperti biji matamu”.[31] Namun sebenarnya kesan ini timbul karena pengaruh vokalisasi Masoretik Teks terhadap frase “the apple of the eye”.[32] Pengertian yang sebenarnya dari istilah ini lebih dekat kepada fungsinya, yaitu sebagai alat penerang di dalam kegelapan (bnd. Ams. 20:20).[33] Perintah sang ayah penting untuk dipelihara karena memiliki manfaat yang signifikan.

Sang ayah menguatkan introductory di atas dengan menceritakan pengalamannya ketika melihat seorang pemuda mengikuti memasuki rumah seorang wanita jalang yang telah bersuami (Ams. 7:19).[34] Wanita jalang tersebut digambarkan sebagai “woman occasionally or professionally committing fornication or prostitute”.[35] Hal ini terbukti dari cara berpakaian, motif tersembunyi di balik penampilannya, dan dari cara ia menggoda pemuda tersebut dengan “berbagai-bagai bujukan” (Ams. 7:22).[36]

Berdasarkan “profesionalitas” wanita tersebut, kita dapat menduga bahwa perjumpaan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Mungkin tempat wanita tersebut sudah diketahui umum, termasuk pemuda tersebut sehingga ia “melangkah menuju rumah perempuan semacam itu, pada waktu petang, senja hari, di malam yang gelap” (Ams. 7:8). Pemuda itu tidak mendapat “serangan tiba-tiba” yang membuatnya mengikuti perempuan itu “seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu untuk dihukum” (7:22). Dalam hal ini, penulis tidak sependapat dengan David Wyrtzen yang menganggap pemuda ini jatuh ke dalam pelukan perempuan itu karena bepergian tanpa rencana.[37] Menurut penulis, kata “tiba-tiba” (~aoït.) dalam ayat 22 (NAS: “suddenly”; NIV: “all at onces”; dan NJB: “forthwith”) sangat tepat mewakili nuansa ketergesaan untuk memuaskan hasrat seksual yang telah “menawannya” sebelum berjumpa dengan wanita tersebut. Obsesi terhadap daya tarik seksual si wanita jalang membuat pemuda tersebut, sebagaimana yang ditulis Charles Bridges, “menyerah seperti prajurit yang tidak bersenjata di bawah dorongan hasrat seksualnya”.[38]

Selanjutnya, dua amsal yang isinya identik satu sama lain (27:12 dan 22:3)[39] juga memberikan penekanan yang kuat akan pengabaian pertimbangan yang matang dalam melakukan sesuatu. Dalam kedua amsal tersebut, orang yang tidak berpengalaman dikontraskan dengan orang bijak dalam sikap terhadap malapetaka. Orang bijak akan berupaya sedapat mungkin menghindari malapetaka sedangkan orang yang tidak berpengalaman menghampirinya. Label “orang bijak” dan “orang yang tidak berpengalaman” diberikan bukan karena mereka “berani atau tidak berani menghadapi persoalan”. Jika demikian, orang yang tidak berpengalamanlah yang patut dipuji karena ia “terus berjalan” menuju malapetaka. Label-label tersebut terkait dengan kemampuan mereka melihat seberapa besar efek yang merugikan dari malapetaka tersebut. Woodcock menjelaskan bahwa yang seorang disebut bijak bukan semata-mata karena ia menghindari malapetaka, melainkan juga karena ia memilih tempat perlindungan yang sesuai yaitu tempat yang mampu melindunginya dari besarnya malapetaka tersebut. Demikian juga, yang tidak berpengalaman tidak dipuji karena kenekatannya berhadapan dengan malapetaka, tetapi justru dicela karena tindakannya itu adalah tindakan yang “blindly plunge into dangers”.[40]

Jadi, dalam amsal-amsal di atas, sebutan orang yang tidak berpengalaman digunakan bagi orang yang mengabaikan pertimbangan yang matang atau yang lebih dikuasai oleh keinginan/hasrat seksualnya. Ia tidak memperhitungkan akibat dari perbuatannya; yang ia pentingkan adalah bagaimana memuaskan birahinya. Mungkin salah satu contoh terkenal yang dapat digunakan untuk menggambarkan tipe pemuda seperti di atas adalah Daud. Oleh karena birahinya ketika melihat Batsyeba, Daud melakukan dosa yang berakibat fatal seumur hidupnya (bnd. 2 Raj. 11:2-27). Seperti pemuda di atas, sebelum terlibat secara fisik dengan Batsyeba, sesungguhnya Daud telah “menyerah” kepada tuntutan hawa nafsunya.

Kedua, orang yang tidak berpengalaman adalah orang mudah mempercayai segala sesuatu (14:15).[41] Akar kata Ibrani dari “mempercayai” adalah !m;a’. Dalam ayat ini, kata !m;a’ digunakan dalam bentuk hiphil, yang berarti: “to believe in”.[42] Makna yang sama juga terlihat jelas dalam terjemahan LXX: pisteu,ei (verb indicative present active 3rd person singular) yang berarti: “believe (in), have faith (in) (with God or Christ as object); believe, believe in; have confidence (in someone or something), entrust something to another (bnd. Rm. 14.2)”.[43] Selanjutnya, kata “segala perkataan” (ITB; KJV; LXX) di sini sebaiknya diterjemahkan dengan “segala sesuatu” (NAS; NIV). Oleh karena rb”+D”-lk’l disandingkan dengan Ar*vua]l; yang secara figuratif mengindikasikan suatu tindakan yang konsisten dengan kehendak Allah (bnd. Ayb. 31:7; Mzm. 17::5; 44:19; 73:2).[44] Jadi dari segi literary context-nya, rb”+D”-lk harus dimengerti dalam pengertian “segala sesuatu”.

Pemuda ini disebut tidak berpengalaman karena ia telah kehilangan filter terhadap segala sesuatu yang ia lihat, alami, dan dengar. Ketika berhadapan dengan realitas, pemuda ini tidak memiliki suatu dasar pertimbangan yang dapat dia pakai untuk menilai atau mengevaluasinya. Kondisi pemuda ini mungkin dapat disamakan dengan “rumah yang telah dibersihkan” dalam perumpamaan Yesus, yang karena tidak berpenghuni maka akhirnya dikuasai kembali oleh kejahatan (bnd. Mat. 12:43-45; Luk. 11:24-26).[45] Salah satu bahaya yang rentan dialami oleh tipe orang seperti ini adalah sebagaimana yang disebutkan Woodcock, yakni ia adalah “orang yang mudah ditipu.[46] Dalam bagian lain, Yesus juga mengingatkan orang-orang dengan maksud yang sama seperti yang diantisipasi dalam Amsal 14:15. Jika amsal ini mengungkapkan maksudnya secara indikatif, maka maksud yang sama juga dikemukakan Yesus dalam bentuk imperatif:

Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang…. Jadi, apabila orang berkata kepadamu: Lihatlah, Ia ada di padang gurun, janganlah kamu pergi ke situ; atau: Lihat, Ia ada di dalam bilik, janganlah kamu percaya (Mat. 24:4, 26).

Rasul Paulus menasihatkan: “ujilah segala sesuatu” (1 Tes 5:21). Demikian pula Yohanes mengingatkan: “ujilah roh-roh itu apakah mereka berasal dari Allah” (1 Yoh. 4:1). Beberapa kutipan PB di atas mengasumsikan tentang betapa pentingnya sebuah sikap evaluatif berdasarkan pertimbangan yang matang dan benar.

Karakteristik-karakteristik yang terlihat dari cara orang yang tidak berpengalaman menavigasi hidupnya, sebagaimana yang diuraikan di atas, tentu saja tidak bersesuaian dengan karakteristik-karakteristik dari mereka yang mendedikasikan hidupnya kepada hikmat. Itulah sebabnya, Amsal 1:32 menggemakan akibat yang akan ditanggung oleh orang yang tidak berpengalaman dalam kaitan dengan sikap negatifnya terhadap panggilan Wanita Hikmat. Istilah “keengganan” (hb’Wvm.) di sini berarti “berbalik dalam pengertian kemurtadan” (apostasy).[47] Ayat ini ditempatkan dalam konteks panggilan Wanita bernama Hikmat (bnd. Ams. 1:20 dst.). Maka arti ayat ini merujuk kepada sikap “menolak untuk mengikuti”, atau “upaya yang dilakukan secara sengaja untuk melarikan diri/berbalik” dari ajakan Wanita Hikmat. Dalam kaitannya dengan identitas Wanita Hikmat dan Wanita Bodoh, Longman berpendapat bahwa “orang yang tidak berpengalaman”  dalam ayat ini memilih untuk mengikuti Wanita Bodoh. Pilihan yang salah ini menempatkan orang tersebut pada jalan kematian. Longman melihat bahwa Yeremia 3:2-3 merupakan contoh yang tepat untuk bagian ini. Yeremia menulis tentang “kematian” bagi Israel akibat menyembah Baal. Dalam hal ini, kematian yang dimaksud adalah musim kekeringan dan kehancuran Yerusalem akibat serangan tentara Babilon, bahkan mereka dibawa ke pembuangan.[48]

Contoh lain yang mungkin dapat ditambahkan di sini adalah seperti yang tercantum dalam Yeremia 2:19, “Kejahatanmu akan menghajar engkau, dan kemurtadanmu akan menyiksa engkau! Ketahuilah dan lihatlah, betapa jahat dan pedihnya engkau meninggalkan TUHAN, Allahmu;….” Dalam komentarnya terhadap tulisan Yeremia ini, Craigi menyatakan,

The coming judgment of Israel was not a random act of God but a direct consequence of the nation’s sin. Israel’s own crimes would return to haunt it; its “defections” from the treaty stipulations would rebuke the nation in its self-induced judgment. To desert God brings with it the experience of evil and bitterness; nothing can avert the consequence other than a penitent return to the God of covenant, a theme that is developed in the next chapter.[49]

Uraian di atas memperlihatkan bahwa ayat ini menyebutkan “orang yang tidak berpengalaman” dalam pengertian pengambilan keputusan yang tidak tepat. Seharusnya ia memilih panggilan Wanita Hikmat daripada yang sebaliknya. Akhirnya ia harus membayar pilihannya sendiri dengan hukuman. Ajakan Wanita Hikmat adalah ajakan yang tidak mengenal kenetralan. Barangsiapa menolak hikmat akan mendapatkan celaka, sebaliknya yang menyambut ajakannya “akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka” (Ams. 1:33).

Konklusi

Dalam penelusuran terhadap konteks dan tendensi amsal-amsal yang menyinggung soal “orang yang tidak berpengalaman” di atas akhirnya memperlihatkan bahwa istilah ini tidak berasosiasi sama sekali dengan “orang yang belum memiliki banyak pengalaman” (dalam pengertian kita saat ini). Istilah ini, terkait dengan  apakah seseorang dapat menangani atau menyalurkan impuls-impuls seksualitasnya dalam koridor yang benar atau sebaliknya. Pada saat, seseorang “menyerah” terhadap hasrat seksualnya dan menyalurkannya secara salah, saat itu identitas yang layak ia sandang adalah “orang yang tidak berpengalaman”.

Demikian pula, penekanan kitab Amsal agar seseorang selalu mempertimbangkan segala tindak-tanduknya dengan matang termasuk akibat-akibat dari tindakannya, juga menyediakan predikat “orang yang tidak berpengalaman” bagi mereka yang bertindak sebaliknya. Signifikansi dari tuntutan tersebut diungkapkan melalui pemberitahuan tentang konsekuensi buruk yang akan diderita oleh orang yang mengabaikan nasihat-nasihat hikmat. Sebuah komentar yang dapat digunakan sebagai bahan konklusif untuk hal ini, berbunyi demikian:

…the bitter fruit of living their own way will be the consequence people will experience in this life. Faced with either choosing God’s wisdom or persisting in rebellious independence, many decide to go it alone. The problems such people create for themselves will destroy them. Don’t ignore God’s advice even if it is painful for the present. It will keep you from greater pain in the future.[50]

Jadi, penggunaan istilah “orang yang tidak berpengalaman” sekaligus mengingatkan kita akan karakteristik traditional wisdom yang melatarbelakangi kitab Amsal atau yang biasanya disebut “doktrin retribusi”. Hidup sukses bagi mereka yang mengikuti jalan hikmat, sedangkan hukuman dan malapetaka bagi mereka yang menempuh jalan kebodohan. Mereka yang memilih jalan yang terakhir inilah yang disebut “orang yang tidak berpengalaman”.


DAFTAR PUSTAKA

A. Sumber Buku

Atkinson, David, The Message of Proverbs: Wisdom for Life. ed. J. A. Motyer ; InterVarsity Press, 1996

Botterweck, G. Johannes, & Helmer Ringren, TDOT, Vol. 1, trans. John T. Willis, Revised Edition; Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1974

Bridges, Charles, A Commentary on Proverbs. Edinburgh: The Banner of Trusth Trust, 1994

Dyrness, William, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 2004

Estes, Daniel J., Hear, My Son: Teaching and Learning in Proverbs 1-9. Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1998

Goldberg, Louis, Savoring the Wisdom of Proverbs. Chicago: Moody Press, 1990

Green, Denis, Pembimbing pada Pengenalan Perjanjian Lama. Malang: Gandum Mas, 1984

Kaiser Jr., Walter C., The Old Testament Documents: Are They Reliabile & Relevant? Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2001

Lasor, W. S., dkk., Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005

Longman, Tremper, How to Read Proverbs. Downers Grove, Illionis: Intervarsity Press, 2002

Longman, Tremper, & Raymon B. Dillard, An Introduction to the Old Testament. Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2006

Mouser, William E., Getting the Most Out of Proverbs. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Pulishing House, 1991

Penyusun, Tim, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005

Scott, R. B. Y., Proverbs & Ecclesiastes. The Ancor Bible; New York: Doubleday & Company, Inc., 1965

Sparks, Kenton L., Ancient Texts for the Study of the Hebrew Bible: A Guide to the Background Literature. Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 2006

Woodcock, Eldon, Proverbs: A Topical Study. Bible Study Commentary; Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1988

Wyrtzen, David, Raising Wordly-Wise but Innocent Kids. Chicago: Moody Press, 1990


[1] Penulis adalah Dosen Biblika di STT Injili Arastamar Jakarta. Saat ini sedang mengikuti program M.Th di STT Amanat Agung Jakarta (sejak tahun 2008).

[2] Pengertian hm’k.x’ terkait dengan “skill, the ability to excel in a particular activity” (R. B. Y. Scott, Proverbs & Ecclesiastes [The Ancor Bible; New York: Doubleday & Company, Inc., 1965], 23). Meskipun demikian, harus diakui bahwa “hikmat” memiliki pengertian yang lebih kaya daripada sekadar keahlian praktis (Lihat: Tremper Longman, How to Read Proverbs [Downers Grove, Illionis: Intervarsity Press, 2002], 14-15

[3] Tremper Longman & Raymon B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids, Michigan: Zondervan, 2006), 268

[4] Pendapat para ahli Perjanjian Lama bahwa kitab Amsal adalah sebuah koleksi pertama-tama terkait dengan sumber-sumber dari materi kitab Amsal.  Kitab ini memuat sekitar 300 dari 3000 amsal yang pernah digubah Salomo (Ams. 10:1 – 22:16; bnd. 1 Raj. 4:32);  amsal-amsal orang bijak (Ams. 22:17 – 24:22); amsal-amsal yang dikumpulkan pegawai Hizkia (Ams. 25:1 – 29:27); perkataan-perkataan Agur bin Yake (Ams. 30:1-33) dan puisi akrostik dari ibu Lamuel (Ams. 31:1-31). Selain itu, teori koleksi ini juga dikemukan berdasarkan adanya kemiripan (bahkan dapat dikatakan duplikatif)  dari beberapa amsal (mis. Ams. 19:5 dan 19:9) dan persebaran tema-tema kitab ini yang tidak tersusun secara sistematis. Kenyataan tersebut mengindikasikan adanya periode transmisi atau suatu proses perkembangan panjang yang berasal dari berbagai sumber, dimana kolektor akhir kitab ini tidak merasa tertarik untuk menyusun tema-tema tersebut dalam kategori nalar modern yang sistematis. Di samping itu tidak dapat disangkali bahwa secara historis, pengajaran dalam bentuk amsal-amsal bukan diawali dengan munculnya kitab ini. Mayoritas ahli Perjanjian Lama menunjukkan bahwa sebelum periode kitab Amsal, telah tersimpan koleksi sastra hikmat yang berjumlah cukup banyak, termasuk kumpulan teks sastra amsal yang beredar luas dalam kebudayaan Mesopotamia, Mesir, dan dalam kelompok bahasa Semit Barat Laut sepanjang millennium ketiga sebelum Masehi. Adapun peredaran amsal-amsal tersebut bersifat lintas-negara (internasional). Itulah sebabnya, tidak tertutup kemungkinan bahwa kitab Amsal sendiri memiliki keterkaitan dengan amsal-amsal ancient Near-East. Sifat dari keterkaitan itu bukan sekadar kemiripan, melainkan juga terdapat indikasi kompilatif antara isi kitab Amsal dengan amsal-amsal ancient Near-East. Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat: Kenton L. Sparks, Ancient Texts for the Study of the Hebrew Bible: A Guide to the Background Literature (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 2006), 56-82; bnd. Longman, How to Read Proverbs, 62-77; William E. Mouser, Getting the Most Out of Proverbs (Grand Rapids, Michigan: Zondervan Pulishing House, 1991), 19. Untuk penjelasa mengenai reliabilitas teks literatur hikmat, lihat: Walter C. Kaiser Jr., The Old Testament Documents: Are They Reliabile & Relevant? (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2001), 147-157

[5] Eldon Woodcock, Proverbs: A Topical Study (Bible Study Commentary; Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1988), 34

[6] W. S. Lasor, dkk: Pengantar Perjanjian Lama 2: Sastra dan Nubuat (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), 91

[7] Para ahli menyebut tendensi ini sebagai “Doktrin Retribusi” yang tidak lain adalah karakteristik utama traditional wisdom.

[8] Studi tematis terhadap kitab Amsal walaupun harus disertai sikap kehati-hatian, namun paling tidak memiliki dua keuntungan, yakni: “Pertama, studi ini memungkinkan setiap pembaca kitab untuk melibatkan diri dengan keseluruhan teks, berinteraksi denganya di dalam level yang lebih dalam, dan sekaligus mempelajari prinsip-prinsip penavigasian hidup yang penting. Kedua, studi jenis ini menyediakan dasar bagi rangkaian pelajaran-pelajaran atau khotbah-khotbah menarik mengenai berbagai tema yang dibahas dalam kitab Amsal” (Lihat: Longman, How to Read Proverbs, 118)

[9] Lihat: Denis Green, Pembimbing pada Pengenalan Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1984), 138-139

[10] David Atkinson, The Message of Proverbs: Wisdom for Life, ed. J. A. Motyer  (InterVarsity Press, 1996), 31

[11] Louis Goldberg, Savoring the Wisdom of Proverbs (Chicago: Moody Press, 1990), 29

[12] Untuk mendalami topik tentang bagaimana bertumbuh dalam hikmat, lihat: Daniel J. Estes, Hear, My Son: Teaching and Learning in Proverbs 1-9 (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1998), 87-100

[13] Longman, How to Read Proverbs, 33-34

[14] Scott, Proverbs & Ecclesiaste, 71

[15] Dikutip oleh: Roland E. Murphy, “Proverbs,” dalam Word Biblical Commentary, Logos Library System (CD-Room; Nashville: Thomas Nelson, 1997; c1992)

[16] Ibid.

[17] Lihat diskusi tentang hal ini dalam: Ibid.

[18] Longman, How to Read Proverbs, 32

[19] Atkinson, The Message of Proverbs, 30

[20] Ibid.

[21] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), 159

[22] Tidak heran kalau Tim Penyusun KBBI menjelaskan lebih lanjut bahwa sifat utama dari kebodohan adalah ketidaktahuan (Ibid., 160)

[23] Lihat: G. Johannes Botterweck & Helmer Ringren, TDOT, Vol. 1, (trans. John T. Willis, Revised Edition; Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1974), 137-140

[24] Lasor, dkk., Pengantar PL, 92

[25] Scott, Proverbs & Ecclesiastes, 16

[26] “BDB (Full Lexicon),” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[27] William Dyrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004), 178

[28]Jerome H. Smith (ed), “The New Treasury of Scripture Knowledge” dalam Electronic edition of the revised edition of The treasury of scripture knowledge, Logos Library System, (CD-Room; Nashville: Thomas Nelson, 1997; c1992)

[29] “TWOT Hebrew Lexicon” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[30] Perikop ini merupakan “the last of parental instruction” dalam kitab Amsal. Mungkin amsal-amsal dalam perikop ini digunakan dalam setting keluarga dimana seorang ayah biasanya memberikan nasihat-nasihat kepada putranya atau bisa juga terjadi dalam setting guru – murid. Pada waktu itu, para pengajar hikmat biasa memanggil murid-muridnya dengan sebutan “anak” (lihat: Murphy, Proverbs)

[31] Murphy, Proverbs

[32] Kesan ini juga nyata dalam terjemahan LXX: “ko,raj ovmma,twn” yang merefleksikan keberhargaan seseorang atau sesuatu hal, misalnya “seorang kekasih” (lihat: “BDAG Lexicon,” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y)

[33] Muphy, Proverbs

[34] Genre dari bagian ini biasanya dikenal dengan istilah “Example Story”, yakni suatu ilustrasi yang mengandung contoh tertentu, biasa dalam bentuk saga (bnd. Ams. 24:30-34; Pkh. 4:13-16)

[35] “TWOT,” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[36] David Wyrtzen, Raising Wordly-Wise but Innocent Kids (Chicago: Moody Press, 1990), 130-131

[37] Ibid., 27-28

[38] Charles Bridges, A Commentary on Proverbs (Edinburgh: The Banner of Trusth Trust, 1994), 69

[39] h[‘är” ha’är” ~WrÜ[‘ (Ams. 27:12); h[‘är” ha’är” Ÿ~WrÜ[‘ (Ams. 22:3)

[40] Woodcock, Proverbs, 116

[41] Mungkin lebih baik menerjemahkan rb”+D”-lk’l dalam ayat ini dengan “segala sesuatu” daripada “segala perkataan”.

[42] “TWOT Hebrew Lexicon,” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[43] “UBS Lexicon” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[44] “TWOT Hebrew Lexicon,” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[45] Lihat: Dyrness, Tema-Tema dalam Teologi Perjanjian Lama, 178

[46] Woodcock, Proverbs, 111

[47] “BDB Lexicon” dalam BibleWorks LLC Version 6.0.005y

[48] Longman, How to Read Proverbs, 35

[49] Peter C. Craigie; Page H. Kelley & Joel F. Drinkard Jr., “Jeremiah 1-25,” dalam Word Biblical Commentary, Vol. 26, Logos Library System (CD-Room; Dallas, Texas: Word Books, Publisher, 1998)

[50] “The Bible Inshight on Proverbs,” dalam QuikVerse Life Aplication Bible [CD-Room]

DARI ANUGERAH KE TALITAKUMI
SEBUAH REFLEKSI PAWAI PASKAH PEMUDA GMIT 2009

(Oleh : PDT ISAKH A HENDRIK, M.Si)

Sebuah karya yang bernuansa religius di persembahkan oleh generasi muda di Kota Kupang melalui Pawai Paskah yang melibatkan pemuda lintas agama pada tanggal 13 April 2009 cukup menyita perhatian ribuan masyarakat  Kota Kupang. Kegiatan ini merupakan agenda tetap yang diprakarsai oleh BP Pemuda GMIT patut diberi apresiasi bukan karena sudah dilaksanakan untuk yang ke-13 kali tetapi terutama melalui kegiatan Pawai paskah ini semua kita diajak untuk berefleksi terhadap karya pengorbanan Yesus Kristus bagi manusia dan dunia.

Saya tergerak untuk mencoba membuat catatan reflektif terhadap karya generasi muda kita ini dalam hubungannya dengan dinamika pergumulan hidup berbangsa dan bernegara maupun dalam kehidupan  bergereja. Setidaknya ada beberapa catatan yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan Pawai Paskah yang diselenggarakan BP Pemuda GMIT tahun ini :

  1. Perhelatan pawai paskah yang melibatkan berbagai komponen pemuda dan juga disaksikan oleh para pejabat eksekutif dan legislatif serta pejabat gereja dan yang melibatkan ribuan perserta   ini memberi pelajaran berharga bagi kita betapa indahnya ketika orang-orang muda bersatu untuk mempersembahkan sebuah karya kehidupan bagi Tuhan dan sesama. Saya membayangkan bagaimana usaha/perjuangan dan kerja keras dari panitia hingga dapat mempersatukan dan mempertemukan para pemuda dari berbagai latar belakang, bersatu padu dan mempersiapkan serta mempersembahkan sebuah karya religius yang tidak saja menjadi tontonan masyarakat tetapi juga sebuah ajakan untuk berfleksi terhadap makna persatuan di republik ini yang akhir-akhir ini diancam oleh perpecahan karena berbagai kepentingan.  Kebersamaan pemuda/i lintas SARA ini hendak menegaskan kepada generasi muda sendiri untuk tidak boleh terjebak dalam jebakan-jebakan kepentingan pribadi atau kelompok dan selalu berusaha untuk memperjuangkan kebersamaan, persatuan dan persaudaraan sebagai kekuatan dalam meraih masa depan yang berkualitas.
  2. Momentum pawai paskah juga menunjukkan kepada kita betapa kayanya anak-anak muda kita yang mampu mempersembahkan karya seni yang  bernuansa religius, yang memiliki nilai estetika yang  sangat tinggi. Berbagai peran yang ditampilkan dalam pawai kemenangan ini hendak mengatakan kepada kita untuk tidak saja memberi penilaian negatif terhadap generasi muda kita tetapi hendaknya kita mengakui bahwa di dalam diri mereka (pemuda/i) ada bakat, talenta yang bisa diberdayakan menjadi sesuatu yang berharga, bernilai dan bisa berguna bagi gereja, masyarakat bangsa dan negara. Keanekaragaman potensi yang dimiliki pemuda bila dipersatukan akan menjadi kekuatan besar dalam membangun kehidupan yang berkualitas.
  3. Momentum paskah ini juga adalah sebuah ajakan bagi kita semua untuk       mempertinggi kepedulian sosial, dengan tidak mementingkan diri sendiri, atau pun kelompok sendiri. Paskah memberikan kemampuan bagi kita untuk memberikan pemikiran, dan upaya kerjasama yang baik dengan siapa pun, dalam mengatasi berbagai krisis yang mengancam kehidupan, atau yang menjadi musuh kemanusiaan.  Kita diajak untuk menghilangkan sikap serta pola pikir ekslusivistik, diskriminatif, primordialistik, dan segala bentuk egoisme lainnya ataupun nepotisme. Karena semua itu tidak sesuai dengan arti dan makna hakiki dari penebusan dan pembebasan Yesus Kristus melalui Paskah yang meliputi keseluruhan eksistensi umat manusia.
  4. Pesan moral dari perhelatan pawai paskah adalah ajakan dari generasi muda kita     untuk mewujudkan spiritualitas yang mendalam serta moralitas hidup yang tinggi, sehingga kehadiran dan karya kita menjadi berkat bagi orang lain. Persoalan moralitas  menjadi masalah  serius yang sedang dihadapi oleh kita semua sebagai warga dari bangsa ini. Bahkan ada yang mengatakan bangsa Indonesia sedang menuju kesempurnaan kehancuran moral. Ungkapan ini mau menyatakan sebuah realitas yang memprihatinkan sekaligus mengkritisi peranan agama sebagai sumber moral bagi setiap individu dari bangsa ini. Jumlah agama dan penganut,sarana/fasilitas keagamaan yang banyak bukanlah jaminan bagi sebuah moral yang berkualitas. Kita baru sampai pada tahap memiliki agama atau beragama disertai dengan kebanggaan pada simbol-simbol keagamaan dan belum disertai dengan penghayatan yang baik terhadap nilai-nilai yang diajarkan oleh agama. Bagi saya nilai yang paling hakiki dari ajaran setiaap agama adalah kasih. Di dalam dan melaui kasih semua umat manusia dengan segala keberadaannya dipersatukan untuk saling membagi, saling memberi, saling mengakui perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan yang dimiliki untuk membangun kehidupan yang berkualitas. Idealisme akan kehidupan moral yang berkualitas telah dipersembahkan pemuda-pemuad kita melalui Pawai Paskah adalah ajakan bagi generasi muda untuk menghayati nilai-nilai moral yang telah diteladankan Yesus menjadi sumber inspirasi. dan juga bagi semua kita yang mencintai kehidupan yang berlandaskan cintah kasih.
  5. Dari Anugerah ke Talitakumi adalah sebuah refleksi perjalanan yang penuh dengan perjuangan yang telah di persembahkan Yesus karena cintaNya kepada manusia dan dunia ini. Perjuangan dan pengorbanan itu dilakukanNya dengan setia dimulai dari kandang hina di Betlehem sampai puncak bukit Golgolta dan berakhir dengan kemengan melalui kebangkitanNya. Ini adalah sebuah cara hidup yang harus terus menerus menjadi sumber motivasi dan inspirasi bagi kita semua dalam menjalani hidup dan karya kita.

Pada akhirnya saran saya kepada pemuda GMIT yang menjadi pemrakarsa kegiatan ini agar tetap menjaga nilai religius dari momentum pawai paskah ini agar tidak saja menjadi sebuah tontonan atau hiburan publik tahunan semata, tetapi terutama memberi motivasi dan inspirasi baru yang menyemangati pemuda untuk terus menghasilkan karya-karya berkualitas bagi gereja, masyarakat, bangsa dan negara ini.

Proficiat bagi BP Pemuda GMIT dan seluruh panitia atas segala usaha dan kerja keras dalam mempersembahkan sebuah karya iman bagi jemaat dan masyarakat Kota Kupang. Teruslah berkarya bagi gereja dan masyarakat  dimana anda berada demi kemuliaan nama Tuhan.

SOLA SCRIPTURA FERBUM DEI

*Penulis adalah Penasehat BPP GMIT dan sekretaris Komisi Pembinaan Personil Majelis Sinode GMIT