So What Gitu Loh??

Oleh: Wilson M.A. Therik, S.E.,M.Si *)

             JANGAN seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12).

            Akhir-akhir ini kita sering mendengar jargon yang menjadi judul tulisan ini meluncur dengan fasih dari mulut anak-anak muda, yang kerap disebut sebagai ABG. Jargon itu bisa bermakna sangat banyak. Secara sederhana bisa menjadi simbol pemberontakan, hal yang sangat kental dalam dunia anak muda. Kira-kira begini, kalo gue nggak punya kerja so what gitu loh? kalo gue pingin pacara sama anak itu so what  gitu loh? Kalo gue pingin rambut gondrong dan di hi-lite so what gitu loh? Dan masih berderet pemberontakan lainnya. Atau bisa jadi semacam pelarian karena enggan memberikan penjelasan. Pendeknya, jargon itu bisa menjadi senjata ampuh buat kaum muda dalam memperkokoh posisinya. Apalagi dalam kondisi di mana orang muda sering dianggap sepele, disalahpahami, dipandang sebagai pembuat onar, dan yang sejenisnya, maja jargon seperti itu semakin menemukan relevansinya.

            Tapi, bayangkanlah kalo kondisi seperti ini dibiarkan terus berlarut. Lihatlah bagaimana jargon itu pada akhirnya bukan hanya populer di kalangan orang muda, tetapi juga di setiap lini masyarakat. Mulai dari anak sampai para lanjut usia bisa dengan fasih mengucap jargon itu. Hanya saja, sekarang jargon itu lebih menunjukkan sisi ketidak-pedulian. Orang boleh bilang apa saja, kalau saya maunya begini dan bukan begitu. So what gitu loh?

            Saya jargon ini baru muncul sekarang, bukan ketika Paulus masih hidup. Tetapi, situasi dan kondisi sekarang hampir tidak berbeda dengan yang dihadapi Paulus dan Timotius dulu. Soal ketidak-pedulian bukan cuma milik masyarakat masa kini. Itu sudah ada sejak zaman dulu kala. Dan ketika kita dihadapkan dengan kondisi seperti ini, memang kita juga bisa saja berkata so what gitu loh? Orang lain saja tidak peduli, mengapa kita mesti peduli? Di republik ini, lebih mudah menemukan orang yang tidak peduli dari pada sebaliknya. Nurani menjadi barang langka. Bahkan mungkin menjadi barang yang tidak lagi menarik, karena itu kalau orang tidak lagi punya nurani so what gitu loh?

            Syukurlah Paulus tidak begitu. Di tengah situasi yang dipenuhi ketidakpedulian, sikap egositik, orang tidak lagi menggunakan akal sehat, dan penyesatan terus berlangsung dalam segala bentuknya, Paulus mengingatkan agar Timotius tidak jatuh dalam kejahatan yang sama. Sebaliknya, ia harus menjadi teladan. Sadar bahwa Timotius masih muda, dan karena itu bisa saja tidak dipedulikan oleh lingkungan, Paulus membesarkan hati Timotius. Kemudaan bukanlah alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Kemudaan bukan saat untuk tidak peduli dan menjadi apatis. Kemudaan justru bisa menjadi kesempatan untuk berbuat sesuatu. Keteladan bukan hanya milik para orang tua. Kalau orang yang seharusnya menjadi teladan gagal menjalankan fungsi keteladanannya, maka orang lain harus bangkit untuk mengambil posisi itu, berapa pun harga yang harus dibayar. Kemudaan justru dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berguna. Justru karena muda, maka lebih banyak hal yang bisa dilakukan.

            Karena itu, Paulus dengan tegas meminta kepada Timotius agar tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk merendahkan dirinya, hanya saja karena ia masih muda. Dan untuk itu, tidak ada cara lain kecuali menunjukkan sebuah mutu hidup yang lebih baik daripada kebanyakan orang saat itu. Hal yang sama juga ditujukan buat kita saat ini. Mungkin dari segi usia, kita tergolong muda. Dari segi apa pun, kita dapat dikatakan mash muda, masih hijau. Tetapi, sekali lagi, itu semua bukan alasan untuk tidak menjadi teladan. Bukan alasan untuk melarikan diri dari panggilan menjadi teladan. Dan karena itu, tidak ada alasan juga untuk bersembunyi di balik jargon populer so what gitu loh?

            Republik ini pernah menelurkan sebuah semangat yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Semangat yang berhasil menggelorakan kaum muda, juga kaum muda kristen  untuk bangkit dan berbuat sesuatu bagi negeri tercinta? Memang setiap angkatan berhak untuk menjadi anak di zamannya. Tetapi, panggilan untuk berbuat da memberi yang terbaik bagi zamannya tidak pernah berubah. Oleh sebab itu, sekali pun zaman berubah, ketidakpedulian meningkat tajam, egosentrik menjadi trend hidup, tidak pernah bisa mengubah panggilan untuk menjadi teladan bagi sesama. Dan itu adalah rahmat bagi orang muda.

            Ah, tetapi semua ini Cuma sebuah suluh. Kalau semua anak muda, juga anak muda kristen enggan untuk menjalankan tugas panggilannya, so what gitu loh?

 

*) Pemuda GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat

Iklan