Agustus 2009


So What Gitu Loh??

Oleh: Wilson M.A. Therik, S.E.,M.Si *)

             JANGAN seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. (1 Timotius 4:12).

            Akhir-akhir ini kita sering mendengar jargon yang menjadi judul tulisan ini meluncur dengan fasih dari mulut anak-anak muda, yang kerap disebut sebagai ABG. Jargon itu bisa bermakna sangat banyak. Secara sederhana bisa menjadi simbol pemberontakan, hal yang sangat kental dalam dunia anak muda. Kira-kira begini, kalo gue nggak punya kerja so what gitu loh? kalo gue pingin pacara sama anak itu so what  gitu loh? Kalo gue pingin rambut gondrong dan di hi-lite so what gitu loh? Dan masih berderet pemberontakan lainnya. Atau bisa jadi semacam pelarian karena enggan memberikan penjelasan. Pendeknya, jargon itu bisa menjadi senjata ampuh buat kaum muda dalam memperkokoh posisinya. Apalagi dalam kondisi di mana orang muda sering dianggap sepele, disalahpahami, dipandang sebagai pembuat onar, dan yang sejenisnya, maja jargon seperti itu semakin menemukan relevansinya.

            Tapi, bayangkanlah kalo kondisi seperti ini dibiarkan terus berlarut. Lihatlah bagaimana jargon itu pada akhirnya bukan hanya populer di kalangan orang muda, tetapi juga di setiap lini masyarakat. Mulai dari anak sampai para lanjut usia bisa dengan fasih mengucap jargon itu. Hanya saja, sekarang jargon itu lebih menunjukkan sisi ketidak-pedulian. Orang boleh bilang apa saja, kalau saya maunya begini dan bukan begitu. So what gitu loh?

            Saya jargon ini baru muncul sekarang, bukan ketika Paulus masih hidup. Tetapi, situasi dan kondisi sekarang hampir tidak berbeda dengan yang dihadapi Paulus dan Timotius dulu. Soal ketidak-pedulian bukan cuma milik masyarakat masa kini. Itu sudah ada sejak zaman dulu kala. Dan ketika kita dihadapkan dengan kondisi seperti ini, memang kita juga bisa saja berkata so what gitu loh? Orang lain saja tidak peduli, mengapa kita mesti peduli? Di republik ini, lebih mudah menemukan orang yang tidak peduli dari pada sebaliknya. Nurani menjadi barang langka. Bahkan mungkin menjadi barang yang tidak lagi menarik, karena itu kalau orang tidak lagi punya nurani so what gitu loh?

            Syukurlah Paulus tidak begitu. Di tengah situasi yang dipenuhi ketidakpedulian, sikap egositik, orang tidak lagi menggunakan akal sehat, dan penyesatan terus berlangsung dalam segala bentuknya, Paulus mengingatkan agar Timotius tidak jatuh dalam kejahatan yang sama. Sebaliknya, ia harus menjadi teladan. Sadar bahwa Timotius masih muda, dan karena itu bisa saja tidak dipedulikan oleh lingkungan, Paulus membesarkan hati Timotius. Kemudaan bukanlah alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Kemudaan bukan saat untuk tidak peduli dan menjadi apatis. Kemudaan justru bisa menjadi kesempatan untuk berbuat sesuatu. Keteladan bukan hanya milik para orang tua. Kalau orang yang seharusnya menjadi teladan gagal menjalankan fungsi keteladanannya, maka orang lain harus bangkit untuk mengambil posisi itu, berapa pun harga yang harus dibayar. Kemudaan justru dilihat sebagai kesempatan untuk berbuat sesuatu yang berguna. Justru karena muda, maka lebih banyak hal yang bisa dilakukan.

            Karena itu, Paulus dengan tegas meminta kepada Timotius agar tidak memberi kesempatan kepada orang lain untuk merendahkan dirinya, hanya saja karena ia masih muda. Dan untuk itu, tidak ada cara lain kecuali menunjukkan sebuah mutu hidup yang lebih baik daripada kebanyakan orang saat itu. Hal yang sama juga ditujukan buat kita saat ini. Mungkin dari segi usia, kita tergolong muda. Dari segi apa pun, kita dapat dikatakan mash muda, masih hijau. Tetapi, sekali lagi, itu semua bukan alasan untuk tidak menjadi teladan. Bukan alasan untuk melarikan diri dari panggilan menjadi teladan. Dan karena itu, tidak ada alasan juga untuk bersembunyi di balik jargon populer so what gitu loh?

            Republik ini pernah menelurkan sebuah semangat yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Semangat yang berhasil menggelorakan kaum muda, juga kaum muda kristen  untuk bangkit dan berbuat sesuatu bagi negeri tercinta? Memang setiap angkatan berhak untuk menjadi anak di zamannya. Tetapi, panggilan untuk berbuat da memberi yang terbaik bagi zamannya tidak pernah berubah. Oleh sebab itu, sekali pun zaman berubah, ketidakpedulian meningkat tajam, egosentrik menjadi trend hidup, tidak pernah bisa mengubah panggilan untuk menjadi teladan bagi sesama. Dan itu adalah rahmat bagi orang muda.

            Ah, tetapi semua ini Cuma sebuah suluh. Kalau semua anak muda, juga anak muda kristen enggan untuk menjalankan tugas panggilannya, so what gitu loh?

 

*) Pemuda GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat

TEOLOGI POLITIK

Oleh Paul SinlaEloE

 Teologi politik dalam pengertiannya yang sekarang, muncul pada tahun 1960-an sebagai suatu gerakan di antara sarjana-sarjana Katholik Roma dan Protestan yang mengembangkan suatu hermeneutik baru dalam pemikiran Kristen untuk menanggapi keadaan dan masalah-masalah modern.

Dengan menekankan pada refleksi terhadap konteks sosial dan historis, teologi politik mengkritik bentuk-bentuk metode teologi yang lain, yakni: Pertama, Thomisme tradisional dengan doktrinnya tentang alam dan hukum alam dipandang sebagai anti sejarah. Kedua, Thomisme transenden (Karl Rahner) yang menekankan subyek dianggap anti politik. Ketiga, Pandangan Lutheranisme dengan teori dua kerajaan dan hokum dunia dikritik karena bersifat dualistik dan statis, Keempat, Ajaran Protestan modern (Rudolf Bultmann) dengan keteguhan eksistensialismenya dianggap individualis.

Para penganjur pertama teologi politik berasal dari Jerman, dengan tokoh utamanya: Johannes Baptist Metz, Jürgen Moltmann, Dorothee Soelle, Helmut Peukert. Ajaran teologi politik ini kemudian dikembangkan dan berkembang di negara-negara Barat lainnya seperti: di Spanyol dengan tokoh utamanya Alfredo Fierro, di Kanada oleh Charles Davis, di Amerika oleh Matthew Lamb & John Cobb.

Gerakan untuk mendukung ajaran teologi politik ini sangat kuat dipengaruhi oleh para pembaharu Marxisme seperti: Ernst Bloch, Theodor W. Adorno, Max Hoekheimer, Jürgen Habermas. Para pembaharu Marxis ini menyatukan konsep praktis Marxisme dengan ajaran Kristen tentang eskatologi sebagai dasar untuk membangun pengertian-pengertian tentang relasi antara dunia dan Allah, dosa dan keselamatan, gereja dan masyarakat. Meskipun berorientasi praktis, teologi politik telah berkembang menjadi suatu pendekatan sistematis terhadap etika.

Sejalan dengan itu, maka dalam tulisan ini akan di uraikan beberapa thema khusus etika yang menonjol di dalam karya-karya di bidang ini, yakni: Pertama, Agen Moral Adalah Subyek Politik. Menurut ajaran teologi politik, dunia bukanlah sebuah kosmos (suatu keadaan yang sempurna), dimana setiap satuan menempati suatu tempat yang merupakan kodratnya dan yang dimaksudkan untuk menjalankan suatu fungsi tertentu. Ia bukanlah suatu proses sosio-historis yang petunjuk dan bentuk tetapnya telah ditentukan sejak semula. Karena itu, untuk menjadi manusia, bukanlah dengan menjadi bagian dari suatu hukum dunia, tetapi menjadi subyek, yang dalam interaksinya dengan orang lain diikutsertakan dalam pembentukan masa depan yang kreatif. Dengan dasar ini, teologi politik adalah kritik, baik secara tidak langsung terhadap determinisme yang menekankan pendekatan IPTEK yang berlebihan terhadap masalah-masalah sosial, dan secara eksplisit terhadap keterbatasan materialisme historis. Selain itu, teologi politik adalah kritik terhadap semua struktur sosial yang meniadakan partisipasi politik orang-orang dari berbagai kelas sosial sebagai dehumanisasi dan mendorong partisipasi dalam perjuangan sejarah emansipasi.

Kedua, Janji Allah Sebagai Dasar Keputusan Moral. Dari perspektif teologi politik, sifat dari kehadiran Allah dalam dunia digambarkan dalam kematian dan kebangkitan Kristus, yang secara dialektis berhubungan dengan keadaan sekarang dan yang akan datang. Dalam penyaliban, Allah dimengerti sebagai hadir dalam penderitaan semua ciptaan. Tanggapan manusia terhadap aspek kehadiran Allah ini secara jelas nampak dalam terminologi empati. Dalam kebangkitan, Allah dimengerti sebagai yang akan datang , sebagai janji yang efektif dari suatu kerajaan yang penuh damai dan keadilan. Kebangkitan adalah suatu simbol eskatologis dalam kontradiksi dimana kondisi aktual dunia sekarang dilihat dan dinilai untuk apa ia ada. Janji Allah yang demikian berfungsi dalam dua arah: sebagai dasar bagi pembentukan keputusan moral dan dasar dari pengharapan bahwa semua struktur dunia dapat ditransformasi.

Ketiga, Penderitaan Sebagai Masalah Moral Dari Sejarah. Dalam teologi politik, konsep penderitaan merupakan pokok yang menggambarkan pengalaman manusia dalam sejarah. Penderitaan, dalam aspek moralnya, disebabkan dan ditopang oleh dosa sosial, oleh tradisi-tradisi dan berbagai institusinya yang menguntungkan beberapa orang, sementara sebagian lainnya tertekan dan mengalami dehumanisasi. Moltmann mencirikan lima lingkaran setan kematian yang melambangkan penderitaan dalam masyarakat kontemporer: (1). Kemiskinan dalam bidang ekonomi. (2). Dominasi suatu kelas/bangsa terhadap lainnya dalam kehidupan politik. (3). Struktur alienasi antara ras, gender, kelompok etnis dalam hubungan kebudayaan. (4). Polusi industri di bidang ekologi. (5). Ada perasaan dimana orang merasa diri tak berarti dan kehilangan tujuan hidup. Menurut Metz, kelima lingkaran setan ini secara bersama-sama merupakan tanda dari penyingkapan masyarakat yang samar-samar. Menurut Lamb, lingkaran ini mendasari suatu dunia penderitaan yang membutuhkan solidaritas dengan para korban.

Keempat, Solidaritas Sebagai Tujuan Pokok Tindakan Moral. Ajaran teologi politik memahami masalah moral adalah hasil dosa sosial dan karenanya tindakan moral harus diarahkan kepada transformasi sosial. Tindakan moral berawal dari solidaritas terhadap penderitaan, dengan orang miskin dan tereksploitasi, tetapi motivasi pokoknya ialah keselamatan menyeluruh dari seluruh dunia (Soelle, Cobb). Dengan demikian tindakan moral dengan sendirinya tidak cukup efektif untuk mempengaruhi penyelamatan dalam pengertiannya yang mistik (sebenarnya terlalu mengada-ada dan berbahaya untuk berpikir bahwa itu mungkin). Yang dimaksudkan oleh teologi politik adalah suatu masyarakat global baru: suatu masyarakat yang melebihi/mengatasi perebutan dan dominasi kelas, suatu masyarakat yag penuh persahabatan (Moltmann) serta terbuka dan bebas berkomunikasi (Peukert). Solidaritas kemudian menandakan suatu identitas sosial yang lebih bersifat inklusif dan umum daripada hubungan saya-kau, yang sebelumnya sudah dikenal dengan baik sekali, dan yang tidak membatasi kepentingan pribadi dibanding relasi-relasi sosial yang saling memberi (Metz).

Kelima, Dasar Misi Gereja Adalah Kritik Moral Terhadap Masyarakat. Gereja menurut teologi politik adalah suatu perkumpulan mesianik dalam masyarakat, yang membangun persekutuan dengan dua sisi sejarah, yakni dari penderitaan dan pembebasan. Ingatan/ kenangan yang berbahaya (Metz) dari penyaliban dan kebangkitan Kristus merupakan suatu panggilan untuk memihak kepada orang-orang yang diabaikan dan yang dikorbankan dan untuk mulai mengikutsertakan mereka dalam praktek yang emansipatif dalam kehidupan sehari-hari yang membebaskan. Dalam beberapa hal gereja bersifat politik, tetapi untuk menjadi benar dalam misinya di dunia modern, gereja harus menjalani suatu reformasi radikal. Secara internal, ia harus menghilangkan tradisi patriakhal dan menjadi gereja yang berasal dari dan untuk semua orang. Secara eksternal, gereja harus menjadi suatu kekuatan yang efektif yang mewakili pemahaman mengenai kerajaan Allah dalam sejarah melalui suatu kritik terhadap pengilahian ekonomi, social dan budaya dan melalui mandat pemuridan yakni keadilan dan cinta yang spesifik/khas.

Keenam, Sosialisme Demokratik sebagai prinsip utama moralitas masyarakat. Dengan menghubungkan kelima lingkaran setan kematian, Moltmann menentukan sejumlah jalan ke arah liberalisasi: sosialisme dalam bidang ekonomi, demokrasi dalam bidang politik, penghargaan terhadap sesama di bidang hubungan kebudayaan, berd mai dengan alam di bidang lingkungan hidup dan di atas semua itu keberanian untuk mewujudkannya. Semua jalan ini menandakan kerajaan Allah yang dijanjikan yakni perwujudan kebenaran. Umumnya teologi politik mendukung sosialisme demokratik dan hak asasi manusia, tetapi Cobb, menghubungkan teologi politik dengan proses berpikir, yang memperdalam dan mengembangkan prinsip-prinsip keadilan sehingga mencakup pula bidang lingkungan hidup. Menghadapi penggunaan kekerasan untuk merubah suatu masyarakat, teologi politik cenderung untuk mengadopsi pandangan bahwa hal tersebut merupakan langkah terakhir dan digunakan secara terbatas. Tetapi, Moltmann menduga bahwa pasivisme (paham yang mengutamakan perdamaian) merupakan satu-satunya tanggapan terhadap ancaman bencana di kemudian hari.

Bertolak dari keseluruhan pemaparan diatas, maka diakhir tulisan ini patut diingat oleh para pemuda kristen bahwa Teori etika harus dikembangkan dan dikaitkan dengan prinsip-prinsip hermeneutik secara tepat untuk membangun pengertian-pengertian tentang relasi antara dunia dan Allah, dosa dan keselamatan, gereja dan masyarakat. Hal ini menjadi penting karena relasi antara dunia dan Allah, dosa dan keselamatan, gereja dan masyarakat mewakili suatu orientasi etik yang sungguh-sungguh berkaitan dengan dunia modern.

LAUDATE PUERI DOMINUM & HASTA LA VICUTORYA SIEMPRE (Pujilah TUHAN Hai Anak-Anak ALLAH dan Berjuang Terus Menuju Kemenangan Abadi).

————————————

Penulis: Pemuda Gereja Ebenhaezer Tarus Barat dan Staf Div. Anti Korupsi PIAR NTT

 

Baru-baru ini Badan Pengurus Pemuda GMIT bersama Panitia Paskah 2009 melakukan 2 kegiatan sekaligus sebagai lanjutan dari kegiatan Paskah yang belum terselesaikan yakni pemutaran film dan pelayanan kesehatan. Kegiatan yang dilakukan selama 2 hari ini bertempat di Gereja PNIEL Noemuke, Desa Noemuke, Kecamatan Amanuban Selatan. Ini pertama kalinya BPP GMIT melakukan kegiatan di tempat itu, kegiatan ini diawali dengan pemutaran film pada hari sabtu malam tanggal 8 Agustus 2009 yang yang dilakukan oleh tim perintis dibawah pimpinan bung Salvanus Falau. Mereka sudah tiba terlebih dahulu pada hari sabtu. Film yang diputar ada 2 film barat bernuasa Kristiani yakni Fly Wheel dan Facing The Giant. Antusias masyarakat disana cukup tinggi terbukti dengan banyaknya orang yang datang memenuhi halaman gereja, bukan saja jemaat PNIEL dan masayarakat sekitar tapi juga masyarakat dari desa tetangga juga turut hadir. Bahkan menurut Ketua KPWK Amanuban Selatan Bapak Pdt. Ishak La’a, jemaat dari gereja-gereja lain juga meminta agar pemutaran film bisa dilakukan di gereja mereka.

Pada hari minggunya, tanggal 9 Agustus 2009 setelah kebaktian utama digelar pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis, yang dilakukan oleh rombongan dari Kupang. Rombongan ini terdiri dari tim dokter, perawat,asisten apoteker serta beberapa teman-teman BPP yang dipimpin oleh Bapak Winstron Rondo selaku ketua BPP GMIT. Rombongan harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam dari Kupoang ke Noemuke karena ada kendaraan yang mogok, kondisi jalan yang berliku-liku dan rusak serta melewati hutan belantara dan menyeberangi 2 kali yang lebarnya hampir 200 meter belum lagi karena tersesat. Tetapi puji Tuhan, rombongan ini dapat tiba di gereja PNIEL Noemuke dengan keadaan selamat. Rombongan ini diterima oleh ketua KPWK Amanuban Selatan yakni Bapak Pdt Isak. La’a yang waktu kedatangan rombongan baru saja selesai memimpin kebaktian utama.

Pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis dimulai pukul 12.00 siang yang dilayani oleh 3 orang dokter PTT yang baru 2,5 bulan bertugas di NTT yakni dr Lidya Raharjo, dr Marilaeta Ratumasa dan dr Ivan Oslan serta 4 orang asisten apoteker untuk pengambilan obat yakni Maria Lamury, Dessy Lay, Elyse Saudale, Christin Carolin dan 1 orang perawat yakni Alfred Duka serta bidan Any dari puskesmas Noemuke yang membantu di pemeriksaan tekanan darah sedangkan teman-teman dari BPP membantu untuk pendaftaran pasien. Kegiatan ini berakhir pukul 17.00 dan pasien yang dilayani sebanyak 230 orang, mereka tidak saja anggota jemaat PNIEL tetapi juga masyarakat dari desa tetangga yang datang untuk memeriksa kesehatannya dan berobat gratis, meskipun mereka harus berjalan kaki cukup jauh dan menyeberangi kali tetapi mereka tetap bersemangat.

Pasien yang datang kebanyakan menderita batuk, pilek, ispa dan penyakit kulit serta ada penyakit khusus yang sudah tidak bisa ditangani di Puskesmas terdekat sehingga harus dirujuk untuk berobat di RSUD So’e atau RSU Kupang. Jumlah pasien kurang dari target awal panitia yakni sebanyak 1000 orang, hal ini dikarenakan masyarakat banyak yang ke hutan untuk memanen asam, pergi berkebun dan sebagiannya lagi sedang mengikuti perayaan menyongsong 17 Agustus di Panite, Ibukota Kecatamatan Amnuban Selatan. Setelah selesai melakukan kegiatan ini, tim perintis dan rombongan pamit dan mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu pelayanan BPP GMIT di Noemuke selama 2 hari terutama kepada Bapak Kepala Desa dan KPWK yang telah mengijinkan BPP GMIT untuk melayani di tempat itu. Terima Kasih juga untuk sponsor obat-obatan dari Dinas Kesehatan Kota Kupang dan PT.Enseval. Bapak Pdt. Ishak La’a selaku Ketua KPWK Amanuban Selatan, berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan, tidak saja di PNIEL Noemuke tetapi juga di semua gereja-gereja yang ada di Klasis Amanuban Selatan. Setelah berpamitan akhirnya rombongan harus meninggalkan desa Noemuke untuk kembali ke Kupang.

Jarak dan waktu bukan alasan untuk tidak menolong dan melayani sesama apalagi jika itu demi kemuliaan nama Tuhan Yesus.Kesempatan yang diberikan tidak akan datang dua kali karena mungkin ketika kita mendapat kesempatan itu kita sudah tidak sehat lagi atau bahkan kita sudah mati jadi

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Galatia 6:9)…..

Sola Scryptura Verbum Dei…!!!

(Yomi Radja)