November 2008


Apa yang kita alami ketika menghayati darah Yesus yang tercurah di kayu salib?

Apa yang kita temukan begitu memasuki ruang Maha Kudus Allah dan menikmati pelukan kasih Bapa yang indah ?

Kita menemui Bapa Sorgawi secara pribadi dan mendapat kesempatan memasuki ruang hati Allah yang paling dalam.

Di sana kita mereguk isi hati Nya dan ikut merasakan apa yang menjadi denyut hati Bapa .

Di saat itu kita akan menemukan alasan mengapa Yesus rela meninggalkan komunitas sorgawi yang indah dan turun ke bami yang kacau, cemar, penuh dosa, kebencian dan segala yang jahat.

Di sana kita akan menemukan alasan, mengapa Bapa membiarkan sorga terasa hampa karena ditinggalkan AnakNya yang tunggal, yang sangat dikasihiNya.

Yesus membayar harga yang sangat mahal agar kita bisa masuk hadirat Allah.

Ia mengalami penderitaan yang luar biasa baik secara fisik maupun mental. Sekali deraan Yesus dicambuk 39 kali. Cambuk yang digunakan untuk mendera Yesus, pada ujung-ujungnya disangkutkan gola timah dan sepanjang tali cambuk tersebut dijalin tulang-tulang domba yang sangat tajam. Cambukan yang kuat dan bertubi-tubi mencabik-cabik kulit dan daging Yesus sehingga sekujur punggungNya nyaris terlihat. Cambuk yang hina itu berubah warna merah, terlumur darah Maha Suci.

Kita dapat membayangkan dengan jelas di depan mata kita. SeandaiNya Yesus meminta kepada BapaNya untuk mengirimkan malaikat dan melepaskan Dia dari penderitaan itu, pasti Bapa di sorga akan melepaskan Dia.

Namun,… malam itu Yesus melihat suatu penglihatan bahwa dunia ini sedang membutuhkan penebusan-Nya. Malahan ia menyadari bahwa tidak cukup hanya darah yang curahkan, Yesus tahu persis bahwa ia harus menyerahkan segalanya sampai mati.

Sesudah malam penyiksaan itu, Yesus diturunkan ke lubang tahanan, di bawah tanah.

Di tempat gelap nan pengap itu Yesus sendirian.

Dia tak dapat berbaring karena punggung-Nya yang robek.

Bahkan mungkin, tak mungkin ia bersandar di dinding sumur itu karena dinding yang dingin itu membuat punggung-Nya perih.

Sumur itu penuh dengan kotoran para tahanan terdahulu dan kemungkinan ada kecoa dan tikus.

Ia mendoakan kita sepanjang malam itu .

Keesokan paginya dalam kondisi tubuh yang sudah lemah sekali, Yesus dibawah keluar, dihadapkan pada Pilatus untuk diadili.

Rangkaian ranting duri kecil runcing tajam sepanjang jari kelingking dibuat sebagai mahkota, dikenakan di kepala Yesus.

Dalam sekejap wajahNya merah bersimbah darahNya.

Sisa janggutNya menjadi kaku karena darah yang membeku, sementara mataNya tenggelam dalam pembengkakan akibat pukulan yang bertubi-tubi.

Kita mungkin tidak pernah habis berpikir bagaimana Yesus bisa bertahan.

Tetapi Alkitab menuliskan bahwa Yesus masih bertahan demi menggenapi rencana Allah.

Luka di punggungNya semalam mulai mengering, namun dirobek kembali saat balok seberat 50 kg ditaruh di atas bahuNya.

Darah Maha Suci itu menyelimuti balok kayu besar,… yang kembali mengupas kulitNya.

Di jalan Dolorosa yang sempit itu ratusan bahkan mungkin ribuan orang mengejek Dia.

Beberapa kali Ia terjatuh, bebatuan di jalan itu merobek lututNya. Tulang pipiNya retak terhantam bumi saat Ia terjerembab.

Murid-muridNya tidak berani berbuat apa-apa.

Yesus ditendang, dipukul dan diludahi di sepanjang jalan itu.

Ia terkoyak-koyak habis!

Jika semua ini hanya drama, Yesus tidak perlu menyelesaikannya.

Di bukit Golgota tangan Yesus dipaku.

Darah segar menyembur saat paku sepanjang 20 cm menembusNya.

Yesus harus menahan seluruh berat tubuhNya hanya dengan tiga paku.

Selama 6 jam tergantung, semua bagian mengalami kesakitan yang mengerikan.

Tidak ada satu bagianpun dari tubuh-Nya yang tidak mengalami kesakitan.

DadaNya mulai terasa sesak.

Paru-paruNya mulai terisi darah.

Setiap kali Yesus akan menarik nafas, Ia harus meregangkan badanNya sementara seluruh berat badanNya hanya tertumpu pada kedua tangan dan kakiNya yang terpaku.

Untuk sekali menarik nafas, Yesus harus mengalami kesakitan yang luar biasa.

Keringat bercampur darah menetes membasahi mataNya. PandanganNya mulai kabur, Dia tak lagi bisa melihat dengan jelas. Dalam penderitaan yang begitu hebat, Ia mencari BapaNya untuk mengutarakan pengampunanNya; Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Seluruh tubuhNya hancur, tidak satu bagianpun yang disisakan untuk Dia pertahankan.

Setiap irisan yang merobek kulit dan dagingNya mendera dan memerasNya.

Darah mengalir deras bagai baju jemuran yang basah, membuat tanah hina di bawah salib memerah kental.

Tanah yang kotor itu tak pernah mengira mendapat anugerah besar tersiram cinta abadi dari Anak Allah yang mencari kekasihNya.

Setiap tetes cinta merah yang masih ada, tidak dipertahankanNya demi menebus kekasihNya.

Seperti biasanya, Ia selalu menengadah ke langit untuk menemui BapaNya, mencari wajahNya.

Di sanalah Ia berlabuh dan mendapatkan kekuatan.

BapaNya adalah sumber dan akhir pekerjaanNya.

Sering kali malam pergumulanNya Ia taburi dengan untaian mesra bersama BapaNya.

Tetapi siang itu tak seperti biasa!

Setelah dengan berat Ia berusaha menengadah dan dengan sudut mata-Nya Ia dapat melihat ke langit lepas, BapaNya tak tampak di sana.

Langit kelam, matahari disembunyikan awan pekat, pekatnya dosa anak-anak bumi telah menutup jendela sorga!

Bapa memalingkan wajahNya, saat itulah Yesus berseru; “Elloi…Elloi…. Lama Sabakhtani?”

Yesus berseru dalam bahasa yang digunakannya ketika Ia masih kanak-kanak.

Ia berseru dalam bahasa ibu, bahasa kampung halaman-Nya, bahasa Aram.

Itulah puncak penghukuman yang Ia terima karena dosa kita.

Duri, cambuk dan paku tak cukup melumatkanNya.

Karena dosa tidak saja membawa duri ke dalam dunia, tetapi telah membawa keterpisahan dengan Bapa.

Hal itulah yang Ia tebus pada bagian akhir dari Tragedi Golgota sebagai tebusan Tragedi Eden, supaya kita tak perlu lagi terpisah dari Bapa.

Terlalu bodoh jika kita berpikir bahwa, neraka dan sorga itu tidak ada! Kalau memang neraka tidak ada, tidak perlu Yesus melakukan semua itu.

Yesus menjalani penderitaan itu, karena menyadari bahwa semua perbuatan baik manusia tidak cukup membawa manusia ke sorga. Manusia membutuhkan penebusanNya agar tidak mengalami maut kekal di neraka.

Jika Yesus rela menderita hanya karena ingin disembah sebagai Tuhan, tidak perlu Ia melakukan semua itu.

Cukuplah Dia terbang dengan suara yang spektakuler, maka Dia akan disembah sebagai tuhan.

Kalau sekedar ingin jadi Tuhan, mudah sekali bagi Yesus untuk menuhankan diriNya, karena memang Dia Tuhan dan punya kuasa untuk menyatakanNya.

Kayu yang dipahat saja begitu mudah menjadi tuhan dan disembah oleh banyak orang.

Bahkan di pelosok negri ini ada pohon-pohon tertentu yang disembah sebagai tuhan.

Kalau sekedar mencari penghormatan untuk disembah, Yesus tidak perlu dipaku di Golgota.

Mengapa Yesus mau menjalani penderitaan itu?

Jika ada cara lain untuk masuk sorga, maka orang pertama yang mengusulkannya adalah Yesus, karna Dialah yang menanggung salib itu.

Jika dosa bisa diselesaikan dengan cara lain, tentu Yesus tidak perlu tergantung di kayu salib!

Jika untuk masuk hadirat Allah ada cara selain mencurahkan darah dan menyerahkan nyawa di kayu salib maka Yesus adalah orang pertama yang akan mencari alternatifnya.

Namun karena tidak ada cara selain salib dan karena tidak ada pribadi lain yang sanggup serta memenuhi syarat untuk membayar harga, agar manusia bisa berhubungan kembali dengan Allah, maka Yesus mau membayar harganya bagi kita.

Yesus melakukan semua itu, supaya kita dapat masuk hadirat Allah dan memiliki persekutuan yang indah dengan Allah yang hidup. Hadirat Allah merupakan suatu penghayatan akan kenyataan kemahahadiran Allah, yang secara nyata dapat dirasakan dan mengakibatkan suatu persekutuan intim dengan Bapa Sorgawi.

Darah Yesus menjadi satu-satunya jalan masuk dan kunci untuk masuk ke sana.

Oleh darahNya perseteruan telah dibatalkan!!! (Merry Djami)

Gambar diambil dari sini

(lebih…)

Iklan

Kalau ia muda, dianggap kurang berpengalaman tapi

Bila rambutnya beruban, ia dianggap terlalu tua

Kalau keluarganya besar, ia beban bagi jemaat,

Bila tidak punya anak, ia tidak bisa diteladani

Kalau isteri/suaminya aktif, dituduh mau menonjolkan diri

Bila tidak, ia tidak mendukung pelayanan

Kalau khotbahnya membaca, sangat membosankan

Kalau diluar kepala, tandanya tidak mempersiapkan diri

Kalau ia berusaha melakukan pembaharuan, ia dituduh sewenang-wenang

Kalau hanya melanjutkan yang ada, ia dianggap boneka

Kalau khotbahnya banyak ilustrasi, ia kurang alkitabiah

Kalau tidak khotbahnya terlalu sulit

Kalau ia gagal menyenangkan hati seseorang, itu berarti ia menyakiti jemaatnya

Kalau ia berusaha menyenangkan hati semua orang, itu berarti ia penjilat

Kalau ia terus terang dalam kebenaran, ia dianggap sengaja menyinggung perasaan

Kalau tidak, ia pengecut kalau khotbahnya panjang, membuat orang mengantuk

Kalau khotbahnya pendek, ia pemalas

Ia mesti bijaksana seperti burung hantu,

Gagah berani laksana rajawali,

Rendah hati bak merpati,

Bersedia makan apa saja bak kenari

Ia mesti seorang ekonom, politikus, pencari dana, penasehat perkawinan, bapak/ibu yang bijaksana, sopir taksi yang ramah, orator yang ulung dan gembala yang arif

Ia mesti bisa bergaul dengan anak-anak, remaja, pemuda sampai orang jompo

Ia mesti pandai bicara dan menulis

Ia seorang pelayan yang harus mau merendah, sekaligus pemimpin yang berwibawa.

*Disadur dari: The Poems for Shadow and Sunshine